Selasa, 07 Mei 2013

Rudy Francisco, Scars

  Belakang ini gua berkenalan sama sesuatu yang sangat sangat asing bagi gua, karena citranya yang jauh dari sifat kelaki-lakian dan memang ga pernah terlintas dipikiran gua untuk melakukan itu, yaitu puisi. Baca puisi, lebih tepatnya.

   Waktu itu gua lagi belajar pelajaran BK, saat tiba-tiba ketua kelas gua, Fauzul, manggil gua sama satu orang cewek utnuk menghadap guru. Gua sih awalnya ga berfikir macem-macem, tapi setelah guru gua ngomong bahwa gua bakal ngewakilin SMA gua buat ikut lomba baca puisi, gua shock.

   Oke, gua sempet mikir, "kenapa ni guru milih gua?" "kenapa gak yang lain?" "apa dasarnya guru ini milih gua?" tapi setelah diselidiki, ternyata semua ini ulah Fauzul yang merekomendasikan gua dengan alasan SELALU BACA BUKU DI KELAS. Dan gua masih bingung, hubungannya sama baca puisi apa.

   Akhirnya gua terima tawaran itu, gua pulang kerumah, rebahin badan sebentar terus langsung nyalain komputer, coba nyari-nyari bahan buat puisi. Cuma butuh waktu 2 menit untuk ngebuat gua jijik karena dari video video yang gua liat dari Youtube, pembacaan puisi itu emang bukan my thing. ekspresi, bahasa tubuh, jeda, intonasi, semuanya harus... lebay.

   Akhirnya gua mutusin buat liat-liat pembacaan puisi dari luar negeri, yaitu Amerika. waktu gua ketik "Poem contest" dan pencet enter, videonya Rudy Francisco yang lagi bacain puisinya yang judulnya Scars langsung muncul di video paling atas, lantas gua klik video itu.

   Singkat kata, 3 menit setelah gua play video itu, gua tercengang. Kagum. pembacaan puisi di luar negeri ternyata beda sama di negeri kita, pembacaan puisi di Amerika disampaikan dengan kecepatan suara yang cepat da tidak mendayu-dayu. oke, ini videonya.

   Oke, keren kan? banget. kita langsung maju ke beberapa minggu setelah kejadian itu ya, intinya gua ga menang gara-gara salah informasi, guru gua gak niat cari info tentang prosedur lomba yang gua kira awalnya puisi diciptain oleh pembaca, tapi ternyata puisi ditentuin oleh juri. Dan kotan saja, gua belum latihan.

   Tapi gua ga nyesel, kanapa? pertama, gua bisa rasain yang namanya dispen. Kedua, gua dapet ceban dari sekolah. Ketiga, ternyata puisi itu a bit menyenangkan, apalagi kalau cara penyampaiannya kaya Rudy Francisco, maka dari itu, gua nyoba bikin video gua lagi bacain puisi mas Rudy, ini dia, kata-katanya banyak yang palibet, tapi gapapalah. just for fun kok.







   Yaa itulah, acara mempermalukan diri gua sendiri hari ini, tapi gapapalah, kan bebas berekspresi, ya gak?

Minggu, 31 Maret 2013

The Brightest Sun : Part II


              Pernahkan kalian berfikir apa yang akan terjadi apabila manusia tidak pernah lupa? Kejadian dari pertama kali ia membukakan mata dapat diingat sebaik-baiknya.jangankan mata pelajaran, semua seluk beluk akan suatu bidang studi pun dapat diingat baik-baik oleh manusia. Mungkin hal ini akan berdampak baik dalam beberapa aspek, tetapi bayangkan jika manusia selalu ingat akan rasa benci, rasa duka dan rasa sedih yang dapat menjerumuskan dan membawa manusia dalam kehancuran. Jadi, mungkin adalah suatu yang bagus manusia dapat lupa.
                Pikiran ini datang menghampiriku ketika otakku tak dapat berhentinya memutar tayangan ulang peristiwa dimana aku bertemu dengan bidadari mungil itu. Beberapa hari telah lewat sejak terakhir kali aku melihatnya. Sehari setelah pak Alex menggiringku ke meja piket layaknya domba, aku melakukan hal itu lagi. menunggu kedatangan sosok setengah manusia setengah bidadari. Sudah 4 hari berturut-turut aku melakukan hal ini tetapi ia tetap tak terlihat. Sungguh, apakah ini yang namanya ci-
                “WOY!!”
                Tiba-tiba teriakan Dio melenyapkan semua lamunanku. Aku terperanjat dan hampir terjatuh dari bangku. Seluruh pelanggan restoran cepat saji yang sedang lahap menyantap makananpun melayangkan pandangan mereka ke arahku.
                “Apaan sih? Gak lucu.” Kataku sambil membetulkan posisi. Dio berserta Adit hanya tertawa terkekeh melihatku.
                “Lo tuh ya, udah seminggu ini ngelamun terus. Ada apa sih?” Tanya Adit sambil masih tertawa.
                Pertanyaan Adit tak kujawab. Aku hanya menyeruput coke float ku sambil bertingkah seolah tidak terjadi apa-apa. Selain kesal, aku juga berusaha untuk menutupi rasa malu.
                “Udah jam 7 nih” Dio menunjukkan jam tangannya.
                “Lo mau pulang? Udah dicariin?” Tanyaku.
                “Udah sih, tapi gue bilang gue baru pulang les.”
                “Yaudah bereskan? Nanti aja ah baliknya. Gue males balik.” Seruku. Padahal handphoneku tak berhenti-hentinya berdering dan suatu nama tertera disitu : Ibu. Didalam hati, aku mempersiapkan segala macam alasan yang dapat diterima oleh akal ibuku seperti motor mogok, kerja kelompok, dan hal-hal lainnya.
                Seketika, sunyi menghampiri kami. Aku, Dio dan Adit sibuk melakukan kegiatan masing-masing. Malam ini restoran cepat saji tempat dimana kami biasa datangi untuk sekedar nongkrong dan ngobrol tidak seramai biasanya. Kira-kira hanya ada 8 orang yang mengisi bangku restoran ini. Kutolehkan kepalaku kearah kaca sambil melihat kearah jalan pajajaran yang ada dibaliknya. Kendaraan beroda dua maupun empat berlalu lalang melewati jalan raya yang sedikit becek karena hujan rintik-rintik yang turun.
Pikiranku kini tertuju pada seseorang yang sangat berjasa tetapi selalu kusakiti dalam hidupku. Ibu. Maaf bu, tapi Willy udah besar, Willy mau coba senang-senang sama temen pikirku. Tiba-tiba dada ini terasa sesak ketika membayangkan wajah ibu yang mendekatkan handphonenya ke telinga dan dengan resah dan cemas berharap anaknya yang paling tua menjawab telponnya.

Minggu, 24 Februari 2013

My dream

     So hey guys, long time no see huh? yea it kinda is. so, my mom told me that if i had a dream i will have to write it down. but, i am scared if i wrote it on paper, the paper will be missing. so i just gonna save it here and shared it to you. so this is my dream:

- Buy a new clothes.
So we will start from the little thing first. yea, i want to buy lots of new clothes because i am not happy enough with my present. how am i gonna get the money? well, i am starting a culinary business and now i get Rp.180.000/day. well i am gonna spend my first 1 million on clothes.

-Buy a new glasses
My glasses is actually broken but my dad fix it for me but it doesn't feel the same anymore so yep, glasses it is!

-Buy a new teeth!
A new teeth!? WTF right? haha but hell yea i use a fake teeth. and it's replaceable, it's not permanent.

-Make my own home studio!
Yea it's a music studio. my idea is whenever i feel boring, i could just go to that room and scream like a crazy people without no one heard me. a good idea huh? of course, i will use it for music too.

-Loose my weight to proportional size.
My current weight is about 70. To reach my proportional weight, i have to loose about 10 kilos. well i have to be such a dedicated person.

-Have a franchised-business.
Have a Franchise business is challenging. first, i will try to buy the simple one like teh upet or teh poci but soon, i am planning to have my own MCD! yea people, you heard me, Mc Donald! well let's just hope i could.

-Buy my own car.
i recently fall in love with cars. especially the old ones. i hope in my high school time i could buy the holden special. amin.

-Publish my first novel.
I am kinda interested on being a writer but i don't have the commitment yet but i hope i will soon publish my novel because i think i really have a lot of thing happens in my life and i want to share it to you all.

-Go around the World!
i hope this will happen soon because i think i am gonna love it. i will see the changes on people in a different place, i could feel their culture, i could taste their foods, oh, flattering!

So yea this is my current dream but this is not all, of course. there is still lots of thing that i want to and i am gonna share it to you later. goodbye!

Rabu, 20 Februari 2013

Resurrecting hope (A Fiction story) Part one : Vortex!

                “Kasih duit lu sekarang juga!” seru seorang yang berbadan tambun besar sambil menggenggam kerah lelaki bertubuh kurus didepannya.
                “Du..duit saya bu..buat ongkos kesekolah bang” Jawab lelaki bertubuh kurus itu dengan terbata-bata. Tubuhnya gemetar dan bulir airmata mulai bermunculan dari pinggir matanya. Sesekali ia membenarkan letak kacamata yang merosot dari hidungnya.
                “Terus gua peduli!? Jalan aja lu sono ke sekolah lu, Susah amat!”  Ancam pria bertubuh tambun itu. Ujung pisaunya ia dekatkan ke tubuh lelaki kurus malang itu.
                “Se..sekolah saya jauh bang.” 
                “Banyak bacot! Sini gua ambil sendiri!” Seru pria bertubuh tambun itu. Ia lalu melepaskan genggaman tangannya pada kerah lelaki kurus lalu ia mulai menggeledah isi kantong lelaki kurus itu dengan tangan kanannya. Sedangkan tangan kirinya masih memegang pisau tajam yang diarahkan ke tubuh lelaki kurus itu.
                “Ja..jangan bang.” Tolak lelaki kurus itu. Tetapi ia tidak memberontak. Ia hanya diam dan rela tubuhnya digerayangi sebuah tangan yang haus akan uang. Keringat dingin jatuh menuruni jidatnya. Nafasnya tak tentu dan tubuhnya gemetar. Lelaki itu takut bukan main.
                Setelah beberapa menit,  lelaki bertubuh tambun itupun segera menarik dompet yang ada di kantung belakang sang lelaki kurus. Tanpa melihat isinya, ia lari secepat cepatnya dan hilang begitu saja. Sang lelaki kurus itu lalu duduk tersungkur di tanah. Badannya lemas karena apa yang baru saja terjadi. Juga karena satu-satunya uang yang ia miliki saat ini telah berada di tangan perampok biadab itu.
                “Dek, ari maneh kunaon?” Tiba-tiba seorang bapak-bapak kisaran umur limapululuh tahunan berdiri di ujung gang sempit itu. Ia tidak memakai baju, hanya celana dan topi saja yang menempel pada badannya. Sandal ataupun sepatu pun tak ia pakai. Pundaknya meminggul sebatang kayu yang terdapat ember pada ujungnya. Ember itu berisi pasir sungai.
                “Ng…Gapapa kok pak” Lelaki bertubuh kurus itu berdiri dengan semua tenaga yang ia punya. Kakinya gemetar ketakutan gara-gara apa yang baru saja terjadi.
                “Waduh, kamu kaya abis ngeliat setan. Emang tadi ada setan?” Tanya bapak kuli pasir itu sambil menghampiri lelaki bertubuh kurus.
                “Bapak bisa aja, saya gapapa kok pak beneran deh. Permisi dulu ya pak saya harus pergi ke sekolah.” Seru lelaki itu dengan tersenyum getir. Ia lalu meninggalkan bapak kuli pasir itu lalu mulai melangkahkan kakinya tak tentu kemana. Sebenarnya ia harus pergi ke sekolah, tetapi sekolahnya terletak di kawasan Merdeka, Kecamatan Bogor utara. Sedangkan ia kini berada di Kawasan warung jambu, Kecamatan Tanah Sareal. Jarak dari tempat ia berada sekarang ke sekolahnya kira-kira 2 kilometer sedangkan 30 menit lagi pelajaran dimulai.
                “Harus kemana lagi sekarang? Pagi-pagi udah apes.” Seru lelaki itu sambil menendang nendang batu kerikil yang ada di jalannya. Pagi ini ia berangkat dengan wajah berseri, karena hasil jerih payahnya menyisihkan uang jajan selama 3 minggu telah terbayar. Ia telah mempunyai cukup uang untuk membeli Video game yang ia sangat inginkan. Pagi ini ia berangkat melewati jalur yang bukan biasa ia tempuh, yaitu melewati pinggiran sungai ciliwung yang akan membawanya menuju plaza jambu dua dan barulah ia menaiki angkutan umum bernomor trayek 07 menuju sekolahnya. Tetapi, tak disangka-sangka, saat ia melewati gang sempit yang terletak di perbatasan antara pinggiran sungai ciliwung dan jambu dua, ia didorong secara brutal oleh sesosok pria bertubuh tambun. Ia tidak bisa melihat mukanya karena pria itu menggunakan masker. Pria tambun itu mengancamnya dengan menggunakan pisau sehingga mau tidak mau ia terpaksa harus menyerahkan uang jerih payahnya selama ini.
                Tanpa dirasa, air mata mengalir turun dari matanya. Bibirnya bergetar, dan ia menangis terisak-isak.
                “penjahat sialan” Serunya dengan rahang yang dikatupkan. Tangannya menggenggam di samping kiri dan kanan pinggulnya. Air matanya terus mengalir tanpa ia bisa hentikan.
                DUAAARRR!!!
                Tiba-tiba ia mendengar suara dentuman yang sangat dahsyat. Suara itu seperti sebuah meteor yang jatuh ke permukaan bumi. ia melihat sesuatu jatuh kedalam aliran air sungai ciliwung bersamaan dengan suara dentuman besar itu sehingga menimbulkan muncratan air yang sangat dahsyat. Dengan kaki gemetar ia dekati sumber suara itu, dan aneh. Sungai masih normal seperti biasa. Gemericik airnya mengalir dengan tenang dari hulu ke hilir. Ikan, katak, kumbang, dan binatang-binatang lainnya masih melakukan aktivitas mereka seolah tidak ada yang terjadi.
                “Mungkin perasaanku aja kali ya.” Ia lalu membalikkan badannya dan ia coba untuk lupakan apa yang baru saja terjadi. Tetapi, pada saat ia hendak melangkahkan kakinya, ia mendengar suara desiran air yang bertambah keras dan keras. Ia membalikkan badannya, lalu ia melihat ada semacam pola lingkaran di atas permukaan air sungai. Pola itu bertambah jelas dan pusatnya semakin menjorok kea rah dasar sungai. Pola lingkaran itu kini membentuk pusaran air yang lebarnya kira-kira 5 meter atau selebar sungai ciliwung itu. Pusaran air itu pula menyedot udara disekelilingnya sehingga banyak tumbuhan dan hewan hewan kecil yang tersedot. Lelaki kurus itu berpegangan erat kepada salah satu pohon besar di pinggiran sungai ciliwung. Tetapi, hisapan pusaran air semakin kuat sehingga satu persatu jarinya mulai melepaskan cengkramannya pada pohon itu dan ia pun terhisap kedalam pusat pusaran air yang dingin.
               "Toloong toloong!" teriak lelaki itu. tetapi tak ada satupun yang mendengarnya,tubuhnya terbawa oleh arus berliku-liku berbentuk lingkaran dan akhirnya ia sirna saat mencapai pusat dari pusaran air misterius itu.

Rabu, 13 Februari 2013

Brightest sun


                Kawan, tahukah engkau akan frase “Elephant Doesn’t Forget” atau Gajah tidak pernah lupa? Frase ini ada benarnya. Gajah atau dalam nama latinnya bernama Elephantidae memiliki pengetahuan yang amat kuat, seekor gajah dapat mengingat suatu peristiwa yang terjadi beberapa tahun yang lalu dan mengingat raut wajah orang-orang pada peristiwa itu. Hal ini disebabkan oleh otaknya yang padat dan berlipat-lipat sehingga ia memiliki ingatan yang amat kuat. Layaknya gajah, akupun memiliki tempat khusus di dalam otakku untuk ingatan yang satu ini.  Peristiwa dimana hatiku tergetar hanya dengan melihat senyum getirnya yang melengkuk bagaikan perahu terindah, matanya yang redup damai bagaikan hamparan luas lavender, gerak-geriknya yang tentram sehingga dapat menenangkan auman singa terganas sekalipun.
                Sosok gadis ini sangat loveable, gampang untuk dicintai. Seragam putih-biru khas SMP yang dikenakannya terlalu longgar untuk disangkutkan di balik tubuhnya yang mungil. Sepatu hitam converse berukuran mungil yang dikenakan diatas selapis kaus kaki yang hampir menyentuh lutut sangat indah untuk diperhatikan. Sungguh mungil kaki itu, menambah daya tarik gadis ini. Senyum yang tak pernah luntur dari wajahnya sangat menentramkan hati setiap orang yang melihatnya. Dua buah gigi gingsul yang timbul malu-malu di setiap ujung senyumannya lagi-lagi menambah ketertarikanku terhadapnya. Sungguh, gadis ini manis bukan buatan.
                Untuk sejenak, aku berharap tuhan melanggar hakikatnya untuk merenggut waktu dari dunia ini. Semua benda diam. Angin tak dapat berhembus, air pun tak dapat mengalir, Burung-burung pipit yang sedang mandi diatas genagan air berhenti sesaat, Bumi berhenti mengitari matahari. Begitu pula sosok yang sejak tadi kuperhatikan. Sosok perempuan mungil berseragam kelonggaran dengan gigi yang mencuat-cuat ini. Siapakah malaikat ini? Bulan manakah yang terbelah menjadi berkeping-keping sehingga telah menjatuhkan salah satu bidadari terindahnya ke lapangan sekolahku yang panas dan berbau pasir ini?. Tiba-tiba waktu mengambil alih. Angin kembali berhembus, air kembali kembali mengalir, burung pipit kembali melanjutkan mandinya, dan bumi kembali berputar megikuti porosnya. Begitu pula gadis mungil ini, sosoknya tiba-tiba hilang dari pandanganku, tertutup oleh orang yang lalu-lalang melintas di depanku. Aku kehilangan bidadari yang turun dari bulan itu. Hatiku resah, dadaku sesak.
                Sudah 34 Jam 12 Menit dan 12 Detik peristiwa itu berlalu. Dan setiap detik yang pergi melewatiku, aku merindukannya.
                Peristiwa itu terjadi hanya beberapa detik, beberapa detik yang amat indah, beberapa detik yang merubah haluan hidupku, sekaligus detik pertama aku jatuh dalam sebuah jurang yang sangat dalam nan licin tetapi, indah. Sangat indah. Jurang itu bernama, cinta.
                Senin, hari dimana kebanyakan umat manusia terikat tak berdaya diatas tempat tidur, dilapisi selimut yang terasa seakan beban 1000 Ton sehingga setiap sendi tubuh tak dapat bergerak. Senin ini, amat berbeda bagiku. Kuputuskan tali yang mengikatku dengan tempat tidur dan kuangkat kuat-kuat beban selimut 1000 Ton itu. Pertama kali, pertama kalinya aku seperti ini pada hari minggu. Ada kekuatan yang mengalir deras dalam pembuluh nadiku, berdetak kencang dalam jantungku, memenuhi badanku dengan hormone adrenalin yang membuatku menjadi manusia super untuk mengangkat beban 1000 Ton itu.
                Pagi itu aku telah bangun mendahului ayam berkokok, hal ini sangat melanggar tabiatku sehari-hari yang biasanya bangun ketika anak-anak SD telah berbaris rapi untuk pemeriksaan kuku harian. Maka pada pukul 06:00 pun semua telah siap. Seragam putih dengan lambang osis kuning dengan mantap membalut tubuhku yang ukurannya berada di daerah abu-abu, antara gendut dan biasa saja. Maka bisa kubilang berisi. di seragam bagian dada kanan terpampang tulisan namaku yang dulu berwarna hitam, sekarang sudah luntur karena terlalu sering dicuci. WILDAN FAUZAN, tertera disitu. Dibawah ujung seragam putih berlambang osis ini adalah celana biru ku. Celana yang melambangkan status ku sebagai pelajar SMP. Tetapi telah ku langgar nilai estetikanya yang seharusnya ujung celana itu tergurai-gurai ketika aku melangkah dan lebar melingkari mata kaki, menjadi ketat mengikuti lekuk kaki ku dan sangat sempit di ujungnya sehingga memerlukan waktu yang lumayan lama untuk dapat mengenakannya. Belum lagi daerah di daerah dengkul celanaku robek karena menghasilkan celah kecil yang mempertontonkan dengkulku dipadu dengan seragam putih yang beberapa hilang kancingnya tetapi kubiarkan saja. Lengkaplah penampilanku ini, sangat melenceng dan melanggar aturan yang diterapkan disekolah sehingga jauh dari kesan terpelajar. Citra tentang anak bandel pun melekat padaku. Aku tak peduli.
                waktu berlalu layaknya wanita tua renta serta tambun sedang berjalan. Amat sangat lambat. Teori pria berkumis dan rambut eksentrik bernama Einstein yang mengatakan bahwa waktu itu relative ternyata benar. Setiap detik terasa seperti satu menit dan satu menit terasa seperti satu jam. Tak henti-hentinya ku tolehkan kepalaku kearah jam dinding yang berdetak jauh lebih lama dari biasanya. Jam dinding ini telah mengejekku, setiap kali kutorehkan kepalaku, hanya bertambah 30 detik dari terakhir kali aku melihatnya.
 “Tik….Tok….Tik…Tok…” ejek sang jam dinding sialan itu.
                 Masih jam 06:12, terlalu pagi untuk pergi ke sekolah. Jarak rumahku dengan sekolah lumayan dekat, masih bisa dibilang walking distance, kira-kira hanya 300 meter. Ditambah lagi, aku menggunakan motor. Hanya butuh waktu kurang lebih 5 menit untuk sampai ke sekolahku dan jika aku berangkat sekarang, aku yakin pak waslam, penjaga sekolah sekolahku,pun, belum membukakan gerbang. Akupun masih menunggu, jam dinding tertawa terbahak-bahak melihatku resah sekaligus marah. “Tik…Tok….Tik…Tok…”

                Pukul 06:45 pagi, ku injakkan kaki memasukki pagar sekolah. Walaupun -15 menit sebelum bel masuk, sekolah masih sarat akan murid. Mungkin inilah tabiat generasi muda jaman sekarang, sering terlambat. Walaupun salah satunya, aku. Tapi tidak hari ini, pagi ini, pagi cerah yang dihiasi oleh nyanyian burung pipit yang dengan eloknya keluar dari sarangnya, bersiap untuk mengumpulkan makanan sambil bersiul-siul memasuki setiap sudut celah kota Bogor. Para ayam mengepakkan sayapnya, berharap bisa terbang layaknya sang pipit sambil berkokok-kokok untuk melepaskan amarahnya, memarahi tuhan karena tidak dianugerahkan keahlian untuk terbang menyongsong angin, menembus awan, dan menukik tajam dari ketinggian 100 kaki. Matahari pagi begitu hangatnya menyinari bumi pertiwi ini,menciumi segala sesuatu yang berada dalam jangkauan sinarnya dengan kehangatan yang menggembirakan, seakan mengucapkan good luck for today kepada setiap mahluk yang berada dalam naungan sinarnya, mendobrak kekuatan-kekuatan manusia untuk melakukan sesuatu yang produktif di pagi yang yang dianugrahi ini.
                Hasrun, tukang bubur ayam langgananku, kaget melihatku berada di kursi panjang tempat para pelanggan bubur ayam nya menyanatap makanan. Tidak biasanya aku berada di tempat itu pada pagi hari kecuali ada sesuatu yang sangat penting seperti saat aku kabur dari tukang parkir yang mengejarku karena merobohkan deretan motor, saat aku melarikan diri dari razia mendadak, atau saat aku sedang malas mengikuti upacara. Melihatku telah berada di sekolah pagi-pagi begini saja, ia sudah takjub.
                Kuambil posisi mengamati dari tempat duduk dagangan bubur ayam ini karena tempat ini sangat strategis. Dengan hanya menengok 90® kearah kanan saja, terhamparlah lapangan beton yang memanjang berbentuk persegi panjang yang diujungnya terletak sebuah gerbang hitam sepanjang 2 meter yang menjadi pintu masuk bagi murid-murid SMPN 12 Bogor. Dan pintu gerbang itulah mark spotku, daerah pengawasanku.
                20 menit telah berlalu. Mataku tak henti-hentinya memandangi gerbang hitam sepanjang 2 meter itu. Hasrun sampai bingung melihatku yang sudah seperti orang sinting. diajak ngomong, aku diam. Ditanya sedang apa, aku tak menanggapinya. Di teriaki orang gila, kupingku tertutup rapat. Ditawari bubur gratis, aku mau. Sayangnya ia tidak melakukan itu.
                Einstein dengan teori relativitas sialannya lagi-lagi menjadikan aku sebagai kelinci percobaan. Dan lagi-lagi itu terbukti benar. Waktu relative berjalan sangat lambat karena yang kulakukan hanya memandangi orang-orang yang keluar dari gerbang hitam setinggi 2 meter itu. Kadang-kadang yang keluar dari gerbang itu berjalan berdua, berjalan sendiri, berjalan berkelompok, berhenti di daun gerbang untuk menunggu temannya yang memanggil. Laki-laki, perempuan, tua, muda, guru, murid, penjaga sekolah, pak najib sang satpam, kepala sekolah, penjual makanan di kantin, seseorang yang tak jelas statusnya, sampai orang gila sekalipun. tapi tak sekalipun aku menemukan sosok itu, sosok yang membuat nafasku tercekat di tenggorokan. Sosok yang menciptakan perang dunia ketiga didalam setiap detak jantungku. Sosok yang memberatkan setiap hembusan nafasku karena kekagumanku atas parasnya. Sosok itu, sosok yang kutunggu-tunggu.
                Sudah 30 menit aku memandangi gerbang hitam setinggi 2 meter itu tetapi aku belum menemukan yang aku cari. Bel sudah berbunyi sejak 20 menit yang lalu tetapi tak kuhiraukan. Peraturan-peraturan yang melekat di sekolah ini dengan seenaknya aku larang sesuka hati. Mulai dari aturan standar rambut, aturan memakai seragam yang benar, aturan lingkar celana yang harus dapat melewati dengkul jika ditarik ke atas, aturan sepatu yang harus berwarna hitam, aturan kaus kaki yang seharusnya berwarna putih dan melewati mata kaki, semuanya aku larang. Dan inilah aku, laki-laki berkulit sawo matang dengan tinggi kurang lebih 169cm dengan baju lecek yang telah ditinggalkan dua butir kancing paling bawahnya, dengan celana yang ketat meliuk-liuk mengikuti lekuk kakiku, berkaus kaki hitam yang dipakai sengaja di bawah mata kaki walaupun sebenarnya kaus kaki itu masih mampu menutupi kaki ku sampai tulang kering, bersepatu abu-abu, rambut gondrong dengan poni yang menari-nari saat terhembus angin, dan juga kacamata yang dikaitkan diatas hidugku yang tak ada batangnya.
                Sekonyong-konyong, kurasakan semeliwir angin berhembus melewati leher bagian belakangku, membuat bulu kudukku meremang. Kuperhatikan kiri-kanan, tidak ada siapa-siapa kecuali anak angin yang sedang bermain-main mengusir debu. Lapangan sepi, tidak ada aktifitas-aktifitas outdoor sama sekali. Hanya murid-murid yang sedang bertaut dengan buku pelajaran mereka masing-masing, yang menghasilkan suara yang menyelinap keluar dari ruangan sehingga samar-samar terdengar olehku.
                Terpikirkan olehku untuk menoleh kebelakang. Tetapi ketika mataku baru menoleh 45® ke arah kiri, tiba-tiba bagian wajahku yang sebelah kiri juga merasakan ketegangan yang dirasakan bulu tengkukku. Dan ekor mataku menangkap sebuah sosok tinggi besar di belakangku, firasatku buruk pikirku. Kupejamkan mataku sambil berkomat-kamit di dalam hati, berharap yang belakangku itu bukan…
                “anak bandeel!”
                Pak Alex. Mati aku.
                “kamu ngapain disini hah? Telinga kamu emang udah tuli? Ga denger bunyi bel!?” teriak pa Alex sambil menjewer telinga sebelah kiriku. Aku terperanjat saat permukaan kulit-kulit kasar jari jempol dan telunjuk pak Alex mengapit daun telingaku dengan keras.
                “Aduh.. pak, maaf pak maaf” rintihku seraya pak Alex menguatkan jewerannya.
                Selanjutnya pak Alex menceramahiku di tempat tentang bagaimana harusnya aku menghargai jerih payah orang tua yang sudah susah-susah mencari uang buat sekolah, tentang pemuda zaman sekarang, tentang dirinya yang rajin ketika seumurku, semuanya ia lakukan sambil menjewer telingaku. Panas sekali rasanya.
                Kulirik Hasrun dengan tatapan -I thought were friend, kukira kita teman Hasrun!-. ia menunduk merasa bersalah karena tidak memberi tahuku pak Alex datang, tapi aku memakluminya karena siapapun yang sudah melihat sosok lelaki hitam, berbadan tinggi dan kekar dengan kumis yang tak karuan ini pastilah mati kutu. Lalu pak Alex menggiringku menuju meja piket. Jari telunjuk dan jempolnya masih betah bersemayam mengapit daun telinga kiriku sambil menariknya untuk menggiringku layaknya seorang peternak kambing menarik tali yang diikatkan di leher kambingnya. Samar-samar kulihat bibirnya tersenyum melihatku merintih-rintih. Sialan, tertawa diatas penderitaan orang lain. Pikirku.