Kawan,
tahukah engkau akan frase “Elephant Doesn’t Forget” atau Gajah tidak pernah
lupa? Frase ini ada benarnya. Gajah atau dalam nama latinnya
bernama Elephantidae
memiliki pengetahuan yang amat kuat, seekor gajah dapat mengingat suatu
peristiwa yang terjadi beberapa tahun yang lalu dan mengingat raut wajah
orang-orang pada peristiwa itu. Hal ini disebabkan oleh otaknya yang padat dan
berlipat-lipat sehingga ia memiliki ingatan yang amat kuat. Layaknya gajah,
akupun memiliki tempat khusus di dalam otakku untuk ingatan yang satu ini. Peristiwa dimana hatiku tergetar hanya dengan
melihat senyum getirnya yang melengkuk bagaikan perahu terindah, matanya yang
redup damai bagaikan hamparan luas lavender, gerak-geriknya yang tentram
sehingga dapat menenangkan auman singa terganas sekalipun.
Sosok
gadis ini sangat loveable, gampang
untuk dicintai. Seragam putih-biru khas SMP yang dikenakannya terlalu longgar
untuk disangkutkan di balik tubuhnya yang mungil. Sepatu hitam converse berukuran mungil yang dikenakan
diatas selapis kaus kaki yang hampir menyentuh lutut sangat indah untuk
diperhatikan. Sungguh mungil kaki itu, menambah daya tarik gadis ini. Senyum
yang tak pernah luntur dari wajahnya sangat menentramkan hati setiap orang yang
melihatnya. Dua buah gigi gingsul yang timbul malu-malu di setiap ujung
senyumannya lagi-lagi menambah ketertarikanku terhadapnya. Sungguh, gadis ini
manis bukan buatan.
Untuk
sejenak, aku berharap tuhan melanggar hakikatnya untuk merenggut waktu dari
dunia ini. Semua benda diam. Angin tak dapat berhembus, air pun tak dapat
mengalir, Burung-burung pipit yang sedang mandi diatas genagan air berhenti
sesaat, Bumi berhenti mengitari matahari. Begitu pula sosok yang sejak tadi
kuperhatikan. Sosok perempuan mungil berseragam kelonggaran dengan gigi yang
mencuat-cuat ini. Siapakah malaikat ini?
Bulan manakah yang terbelah menjadi berkeping-keping sehingga telah menjatuhkan
salah satu bidadari terindahnya ke lapangan sekolahku yang panas dan berbau
pasir ini?. Tiba-tiba waktu mengambil alih. Angin kembali berhembus, air
kembali kembali mengalir, burung pipit kembali melanjutkan mandinya, dan bumi
kembali berputar megikuti porosnya. Begitu pula gadis mungil ini, sosoknya
tiba-tiba hilang dari pandanganku, tertutup oleh orang yang lalu-lalang
melintas di depanku. Aku kehilangan bidadari yang turun dari bulan itu. Hatiku
resah, dadaku sesak.
Sudah
34 Jam 12 Menit dan 12 Detik peristiwa itu berlalu. Dan setiap detik yang pergi
melewatiku, aku merindukannya.
Peristiwa itu terjadi hanya
beberapa detik, beberapa detik yang amat indah, beberapa detik yang merubah
haluan hidupku, sekaligus detik pertama aku jatuh dalam sebuah jurang yang
sangat dalam nan licin tetapi, indah. Sangat indah. Jurang itu bernama, cinta.
Senin,
hari dimana kebanyakan umat manusia terikat tak berdaya diatas tempat tidur,
dilapisi selimut yang terasa seakan beban 1000 Ton sehingga setiap sendi tubuh
tak dapat bergerak. Senin ini, amat berbeda bagiku. Kuputuskan tali yang mengikatku
dengan tempat tidur dan kuangkat kuat-kuat beban selimut 1000 Ton itu. Pertama
kali, pertama kalinya aku seperti ini pada hari minggu. Ada kekuatan yang
mengalir deras dalam pembuluh nadiku, berdetak kencang dalam jantungku,
memenuhi badanku dengan hormone adrenalin yang membuatku menjadi manusia super
untuk mengangkat beban 1000 Ton itu.
Pagi
itu aku telah bangun mendahului ayam berkokok, hal ini sangat melanggar
tabiatku sehari-hari yang biasanya bangun ketika anak-anak SD telah berbaris
rapi untuk pemeriksaan kuku harian. Maka pada pukul 06:00 pun semua telah siap.
Seragam putih dengan lambang osis kuning dengan mantap membalut tubuhku yang ukurannya
berada di daerah abu-abu, antara gendut dan biasa saja. Maka bisa kubilang
berisi. di seragam bagian dada kanan terpampang tulisan namaku yang dulu
berwarna hitam, sekarang sudah luntur karena terlalu sering dicuci. WILDAN
FAUZAN, tertera disitu. Dibawah ujung seragam putih berlambang osis ini adalah
celana biru ku. Celana yang melambangkan status ku sebagai pelajar SMP. Tetapi
telah ku langgar nilai estetikanya yang seharusnya ujung celana itu tergurai-gurai
ketika aku melangkah dan lebar melingkari mata kaki, menjadi ketat mengikuti
lekuk kaki ku dan sangat sempit di ujungnya sehingga memerlukan waktu yang
lumayan lama untuk dapat mengenakannya. Belum lagi daerah di daerah dengkul
celanaku robek karena menghasilkan celah kecil yang mempertontonkan dengkulku
dipadu dengan seragam putih yang beberapa hilang kancingnya tetapi kubiarkan
saja. Lengkaplah penampilanku ini, sangat melenceng dan melanggar aturan yang
diterapkan disekolah sehingga jauh dari kesan terpelajar. Citra tentang anak
bandel pun melekat padaku. Aku tak peduli.
waktu
berlalu layaknya wanita tua renta serta tambun sedang berjalan. Amat sangat
lambat. Teori pria berkumis dan rambut eksentrik bernama Einstein yang
mengatakan bahwa waktu itu relative ternyata benar. Setiap detik terasa seperti
satu menit dan satu menit terasa seperti satu jam. Tak henti-hentinya ku
tolehkan kepalaku kearah jam dinding yang berdetak jauh lebih lama dari
biasanya. Jam dinding ini telah mengejekku, setiap kali kutorehkan kepalaku,
hanya bertambah 30 detik dari terakhir kali aku melihatnya.
“Tik….Tok….Tik…Tok…” ejek sang jam dinding
sialan itu.
Masih jam 06:12, terlalu pagi untuk pergi ke
sekolah. Jarak rumahku dengan sekolah lumayan dekat, masih bisa dibilang walking distance, kira-kira hanya 300
meter. Ditambah lagi, aku menggunakan motor. Hanya butuh waktu kurang lebih 5
menit untuk sampai ke sekolahku dan jika aku berangkat sekarang, aku yakin pak
waslam, penjaga sekolah sekolahku,pun, belum membukakan gerbang. Akupun masih
menunggu, jam dinding tertawa terbahak-bahak melihatku resah sekaligus marah.
“Tik…Tok….Tik…Tok…”
Pukul
06:45 pagi, ku injakkan kaki memasukki pagar sekolah. Walaupun -15 menit
sebelum bel masuk, sekolah masih sarat akan murid. Mungkin inilah tabiat
generasi muda jaman sekarang, sering terlambat. Walaupun salah satunya, aku.
Tapi tidak hari ini, pagi ini, pagi cerah yang dihiasi oleh nyanyian burung
pipit yang dengan eloknya keluar dari sarangnya, bersiap untuk mengumpulkan
makanan sambil bersiul-siul memasuki setiap sudut celah kota Bogor. Para ayam
mengepakkan sayapnya, berharap bisa terbang layaknya sang pipit sambil
berkokok-kokok untuk melepaskan amarahnya, memarahi tuhan karena tidak
dianugerahkan keahlian untuk terbang menyongsong angin, menembus awan, dan
menukik tajam dari ketinggian 100 kaki. Matahari pagi begitu hangatnya
menyinari bumi pertiwi ini,menciumi segala sesuatu yang berada dalam jangkauan
sinarnya dengan kehangatan yang menggembirakan, seakan mengucapkan good luck for today kepada setiap mahluk
yang berada dalam naungan sinarnya, mendobrak kekuatan-kekuatan manusia untuk
melakukan sesuatu yang produktif di pagi yang yang dianugrahi ini.
Hasrun,
tukang bubur ayam langgananku, kaget melihatku berada di kursi panjang tempat
para pelanggan bubur ayam nya menyanatap makanan. Tidak biasanya aku berada di
tempat itu pada pagi hari kecuali ada sesuatu yang sangat penting seperti saat
aku kabur dari tukang parkir yang mengejarku karena merobohkan deretan motor,
saat aku melarikan diri dari razia mendadak, atau saat aku sedang malas mengikuti
upacara. Melihatku telah berada di sekolah pagi-pagi begini saja, ia sudah
takjub.
Kuambil
posisi mengamati dari tempat duduk dagangan bubur ayam ini karena tempat ini
sangat strategis. Dengan hanya menengok 90® kearah kanan saja, terhamparlah
lapangan beton yang memanjang berbentuk persegi panjang yang diujungnya
terletak sebuah gerbang hitam sepanjang 2 meter yang menjadi pintu masuk bagi
murid-murid SMPN 12 Bogor. Dan pintu gerbang itulah mark spotku, daerah pengawasanku.
20
menit telah berlalu. Mataku tak henti-hentinya memandangi gerbang hitam
sepanjang 2 meter itu. Hasrun sampai bingung melihatku yang sudah seperti orang
sinting. diajak ngomong, aku diam. Ditanya sedang apa, aku tak menanggapinya.
Di teriaki orang gila, kupingku tertutup rapat. Ditawari bubur gratis, aku mau.
Sayangnya ia tidak melakukan itu.
Einstein
dengan teori relativitas sialannya lagi-lagi menjadikan aku sebagai kelinci
percobaan. Dan lagi-lagi itu terbukti benar. Waktu relative berjalan sangat
lambat karena yang kulakukan hanya memandangi orang-orang yang keluar dari
gerbang hitam setinggi 2 meter itu. Kadang-kadang yang keluar dari gerbang itu
berjalan berdua, berjalan sendiri, berjalan berkelompok, berhenti di daun
gerbang untuk menunggu temannya yang memanggil. Laki-laki, perempuan, tua,
muda, guru, murid, penjaga sekolah, pak
najib sang satpam, kepala sekolah, penjual makanan di kantin, seseorang
yang tak jelas statusnya, sampai orang gila sekalipun. tapi tak sekalipun aku
menemukan sosok itu, sosok yang membuat nafasku tercekat di tenggorokan. Sosok yang
menciptakan perang dunia ketiga didalam setiap detak jantungku. Sosok yang
memberatkan setiap hembusan nafasku karena kekagumanku atas parasnya. Sosok
itu, sosok yang kutunggu-tunggu.
Sudah
30 menit aku memandangi gerbang hitam setinggi 2 meter itu tetapi aku belum
menemukan yang aku cari. Bel sudah berbunyi sejak 20 menit yang lalu tetapi tak
kuhiraukan. Peraturan-peraturan yang melekat di sekolah ini dengan seenaknya
aku larang sesuka hati. Mulai dari aturan standar rambut, aturan memakai
seragam yang benar, aturan lingkar celana yang harus dapat melewati dengkul
jika ditarik ke atas, aturan sepatu yang harus berwarna hitam, aturan kaus kaki
yang seharusnya berwarna putih dan melewati mata kaki, semuanya aku larang. Dan
inilah aku, laki-laki berkulit sawo matang dengan tinggi kurang lebih 169cm
dengan baju lecek yang telah ditinggalkan dua butir kancing paling bawahnya,
dengan celana yang ketat meliuk-liuk mengikuti lekuk kakiku, berkaus kaki hitam
yang dipakai sengaja di bawah mata kaki walaupun sebenarnya kaus kaki itu masih
mampu menutupi kaki ku sampai tulang kering, bersepatu abu-abu, rambut gondrong
dengan poni yang menari-nari saat terhembus angin, dan juga kacamata yang
dikaitkan diatas hidugku yang tak ada batangnya.
Sekonyong-konyong,
kurasakan semeliwir angin berhembus melewati leher bagian belakangku, membuat
bulu kudukku meremang. Kuperhatikan kiri-kanan, tidak ada siapa-siapa kecuali
anak angin yang sedang bermain-main mengusir debu. Lapangan sepi, tidak ada
aktifitas-aktifitas outdoor sama
sekali. Hanya murid-murid yang sedang bertaut dengan buku pelajaran mereka
masing-masing, yang menghasilkan suara yang menyelinap keluar dari ruangan
sehingga samar-samar terdengar olehku.
Terpikirkan
olehku untuk menoleh kebelakang. Tetapi ketika mataku baru menoleh 45® ke arah
kiri, tiba-tiba bagian wajahku yang sebelah kiri juga merasakan ketegangan yang
dirasakan bulu tengkukku. Dan ekor mataku menangkap sebuah sosok tinggi besar
di belakangku, firasatku buruk pikirku.
Kupejamkan mataku sambil berkomat-kamit di dalam hati, berharap yang belakangku
itu bukan…
“anak
bandeel!”
Pak
Alex. Mati aku.
“kamu
ngapain disini hah? Telinga kamu emang udah tuli? Ga denger bunyi bel!?” teriak
pa Alex sambil menjewer telinga sebelah kiriku. Aku terperanjat saat permukaan
kulit-kulit kasar jari jempol dan telunjuk pak Alex mengapit daun telingaku
dengan keras.
“Aduh..
pak, maaf pak maaf” rintihku seraya pak Alex menguatkan jewerannya.
Selanjutnya
pak Alex menceramahiku di tempat tentang bagaimana harusnya aku menghargai
jerih payah orang tua yang sudah susah-susah mencari uang buat sekolah, tentang
pemuda zaman sekarang, tentang dirinya yang rajin ketika seumurku, semuanya ia
lakukan sambil menjewer telingaku. Panas sekali rasanya.
Kulirik Hasrun dengan tatapan -I thought were friend, kukira kita teman
Hasrun!-. ia menunduk merasa bersalah karena tidak memberi tahuku pak Alex
datang, tapi aku memakluminya karena siapapun yang sudah melihat sosok lelaki
hitam, berbadan tinggi dan kekar dengan kumis yang tak karuan ini pastilah mati
kutu. Lalu pak Alex menggiringku menuju meja piket. Jari telunjuk dan jempolnya
masih betah bersemayam mengapit daun telinga kiriku sambil menariknya untuk
menggiringku layaknya seorang peternak kambing menarik tali yang diikatkan di
leher kambingnya. Samar-samar kulihat bibirnya tersenyum melihatku
merintih-rintih. Sialan, tertawa diatas
penderitaan orang lain. Pikirku.