Pernahkan kalian berfikir apa yang akan terjadi apabila
manusia tidak pernah lupa? Kejadian dari pertama kali ia membukakan mata dapat
diingat sebaik-baiknya.jangankan mata pelajaran, semua seluk beluk akan suatu
bidang studi pun dapat diingat baik-baik oleh manusia. Mungkin hal ini akan
berdampak baik dalam beberapa aspek, tetapi bayangkan jika manusia selalu ingat
akan rasa benci, rasa duka dan rasa sedih yang dapat menjerumuskan dan membawa
manusia dalam kehancuran. Jadi, mungkin adalah suatu yang bagus manusia dapat
lupa.
Pikiran
ini datang menghampiriku ketika otakku tak dapat berhentinya memutar tayangan
ulang peristiwa dimana aku bertemu dengan bidadari mungil itu. Beberapa hari
telah lewat sejak terakhir kali aku melihatnya. Sehari setelah pak Alex
menggiringku ke meja piket layaknya domba, aku melakukan hal itu lagi. menunggu
kedatangan sosok setengah manusia setengah bidadari. Sudah 4 hari
berturut-turut aku melakukan hal ini tetapi ia tetap tak terlihat. Sungguh,
apakah ini yang namanya ci-
“WOY!!”
Tiba-tiba
teriakan Dio melenyapkan semua lamunanku. Aku terperanjat dan hampir terjatuh dari
bangku. Seluruh pelanggan restoran cepat saji yang sedang lahap menyantap
makananpun melayangkan pandangan mereka ke arahku.
“Apaan
sih? Gak lucu.” Kataku sambil membetulkan posisi. Dio berserta Adit hanya
tertawa terkekeh melihatku.
“Lo tuh
ya, udah seminggu ini ngelamun terus. Ada apa sih?” Tanya Adit sambil masih
tertawa.
Pertanyaan
Adit tak kujawab. Aku hanya menyeruput coke float ku sambil bertingkah seolah
tidak terjadi apa-apa. Selain kesal, aku juga berusaha untuk menutupi rasa
malu.
“Udah
jam 7 nih” Dio menunjukkan jam tangannya.
“Lo mau
pulang? Udah dicariin?” Tanyaku.
“Udah
sih, tapi gue bilang gue baru pulang les.”
“Yaudah
bereskan? Nanti aja ah baliknya. Gue males balik.” Seruku. Padahal handphoneku
tak berhenti-hentinya berdering dan suatu nama tertera disitu : Ibu. Didalam
hati, aku mempersiapkan segala macam alasan yang dapat diterima oleh akal ibuku
seperti motor mogok, kerja kelompok, dan hal-hal lainnya.
Seketika,
sunyi menghampiri kami. Aku, Dio dan Adit sibuk melakukan kegiatan
masing-masing. Malam ini restoran cepat saji tempat dimana kami biasa datangi untuk sekedar nongkrong dan ngobrol tidak seramai biasanya. Kira-kira hanya ada 8 orang yang mengisi bangku restoran ini. Kutolehkan
kepalaku kearah kaca sambil melihat kearah jalan pajajaran yang ada dibaliknya.
Kendaraan beroda dua maupun empat berlalu lalang melewati jalan raya yang sedikit becek karena hujan rintik-rintik yang turun.
Pikiranku
kini tertuju pada seseorang yang sangat berjasa tetapi selalu kusakiti dalam
hidupku. Ibu. Maaf bu, tapi Willy udah
besar, Willy mau coba senang-senang sama temen pikirku. Tiba-tiba dada ini
terasa sesak ketika membayangkan wajah ibu yang mendekatkan handphonenya ke
telinga dan dengan resah dan cemas berharap anaknya yang paling tua menjawab
telponnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar