Minggu, 31 Maret 2013

The Brightest Sun : Part II


              Pernahkan kalian berfikir apa yang akan terjadi apabila manusia tidak pernah lupa? Kejadian dari pertama kali ia membukakan mata dapat diingat sebaik-baiknya.jangankan mata pelajaran, semua seluk beluk akan suatu bidang studi pun dapat diingat baik-baik oleh manusia. Mungkin hal ini akan berdampak baik dalam beberapa aspek, tetapi bayangkan jika manusia selalu ingat akan rasa benci, rasa duka dan rasa sedih yang dapat menjerumuskan dan membawa manusia dalam kehancuran. Jadi, mungkin adalah suatu yang bagus manusia dapat lupa.
                Pikiran ini datang menghampiriku ketika otakku tak dapat berhentinya memutar tayangan ulang peristiwa dimana aku bertemu dengan bidadari mungil itu. Beberapa hari telah lewat sejak terakhir kali aku melihatnya. Sehari setelah pak Alex menggiringku ke meja piket layaknya domba, aku melakukan hal itu lagi. menunggu kedatangan sosok setengah manusia setengah bidadari. Sudah 4 hari berturut-turut aku melakukan hal ini tetapi ia tetap tak terlihat. Sungguh, apakah ini yang namanya ci-
                “WOY!!”
                Tiba-tiba teriakan Dio melenyapkan semua lamunanku. Aku terperanjat dan hampir terjatuh dari bangku. Seluruh pelanggan restoran cepat saji yang sedang lahap menyantap makananpun melayangkan pandangan mereka ke arahku.
                “Apaan sih? Gak lucu.” Kataku sambil membetulkan posisi. Dio berserta Adit hanya tertawa terkekeh melihatku.
                “Lo tuh ya, udah seminggu ini ngelamun terus. Ada apa sih?” Tanya Adit sambil masih tertawa.
                Pertanyaan Adit tak kujawab. Aku hanya menyeruput coke float ku sambil bertingkah seolah tidak terjadi apa-apa. Selain kesal, aku juga berusaha untuk menutupi rasa malu.
                “Udah jam 7 nih” Dio menunjukkan jam tangannya.
                “Lo mau pulang? Udah dicariin?” Tanyaku.
                “Udah sih, tapi gue bilang gue baru pulang les.”
                “Yaudah bereskan? Nanti aja ah baliknya. Gue males balik.” Seruku. Padahal handphoneku tak berhenti-hentinya berdering dan suatu nama tertera disitu : Ibu. Didalam hati, aku mempersiapkan segala macam alasan yang dapat diterima oleh akal ibuku seperti motor mogok, kerja kelompok, dan hal-hal lainnya.
                Seketika, sunyi menghampiri kami. Aku, Dio dan Adit sibuk melakukan kegiatan masing-masing. Malam ini restoran cepat saji tempat dimana kami biasa datangi untuk sekedar nongkrong dan ngobrol tidak seramai biasanya. Kira-kira hanya ada 8 orang yang mengisi bangku restoran ini. Kutolehkan kepalaku kearah kaca sambil melihat kearah jalan pajajaran yang ada dibaliknya. Kendaraan beroda dua maupun empat berlalu lalang melewati jalan raya yang sedikit becek karena hujan rintik-rintik yang turun.
Pikiranku kini tertuju pada seseorang yang sangat berjasa tetapi selalu kusakiti dalam hidupku. Ibu. Maaf bu, tapi Willy udah besar, Willy mau coba senang-senang sama temen pikirku. Tiba-tiba dada ini terasa sesak ketika membayangkan wajah ibu yang mendekatkan handphonenya ke telinga dan dengan resah dan cemas berharap anaknya yang paling tua menjawab telponnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar