Rabu, 20 Februari 2013

Resurrecting hope (A Fiction story) Part one : Vortex!

                “Kasih duit lu sekarang juga!” seru seorang yang berbadan tambun besar sambil menggenggam kerah lelaki bertubuh kurus didepannya.
                “Du..duit saya bu..buat ongkos kesekolah bang” Jawab lelaki bertubuh kurus itu dengan terbata-bata. Tubuhnya gemetar dan bulir airmata mulai bermunculan dari pinggir matanya. Sesekali ia membenarkan letak kacamata yang merosot dari hidungnya.
                “Terus gua peduli!? Jalan aja lu sono ke sekolah lu, Susah amat!”  Ancam pria bertubuh tambun itu. Ujung pisaunya ia dekatkan ke tubuh lelaki kurus malang itu.
                “Se..sekolah saya jauh bang.” 
                “Banyak bacot! Sini gua ambil sendiri!” Seru pria bertubuh tambun itu. Ia lalu melepaskan genggaman tangannya pada kerah lelaki kurus lalu ia mulai menggeledah isi kantong lelaki kurus itu dengan tangan kanannya. Sedangkan tangan kirinya masih memegang pisau tajam yang diarahkan ke tubuh lelaki kurus itu.
                “Ja..jangan bang.” Tolak lelaki kurus itu. Tetapi ia tidak memberontak. Ia hanya diam dan rela tubuhnya digerayangi sebuah tangan yang haus akan uang. Keringat dingin jatuh menuruni jidatnya. Nafasnya tak tentu dan tubuhnya gemetar. Lelaki itu takut bukan main.
                Setelah beberapa menit,  lelaki bertubuh tambun itupun segera menarik dompet yang ada di kantung belakang sang lelaki kurus. Tanpa melihat isinya, ia lari secepat cepatnya dan hilang begitu saja. Sang lelaki kurus itu lalu duduk tersungkur di tanah. Badannya lemas karena apa yang baru saja terjadi. Juga karena satu-satunya uang yang ia miliki saat ini telah berada di tangan perampok biadab itu.
                “Dek, ari maneh kunaon?” Tiba-tiba seorang bapak-bapak kisaran umur limapululuh tahunan berdiri di ujung gang sempit itu. Ia tidak memakai baju, hanya celana dan topi saja yang menempel pada badannya. Sandal ataupun sepatu pun tak ia pakai. Pundaknya meminggul sebatang kayu yang terdapat ember pada ujungnya. Ember itu berisi pasir sungai.
                “Ng…Gapapa kok pak” Lelaki bertubuh kurus itu berdiri dengan semua tenaga yang ia punya. Kakinya gemetar ketakutan gara-gara apa yang baru saja terjadi.
                “Waduh, kamu kaya abis ngeliat setan. Emang tadi ada setan?” Tanya bapak kuli pasir itu sambil menghampiri lelaki bertubuh kurus.
                “Bapak bisa aja, saya gapapa kok pak beneran deh. Permisi dulu ya pak saya harus pergi ke sekolah.” Seru lelaki itu dengan tersenyum getir. Ia lalu meninggalkan bapak kuli pasir itu lalu mulai melangkahkan kakinya tak tentu kemana. Sebenarnya ia harus pergi ke sekolah, tetapi sekolahnya terletak di kawasan Merdeka, Kecamatan Bogor utara. Sedangkan ia kini berada di Kawasan warung jambu, Kecamatan Tanah Sareal. Jarak dari tempat ia berada sekarang ke sekolahnya kira-kira 2 kilometer sedangkan 30 menit lagi pelajaran dimulai.
                “Harus kemana lagi sekarang? Pagi-pagi udah apes.” Seru lelaki itu sambil menendang nendang batu kerikil yang ada di jalannya. Pagi ini ia berangkat dengan wajah berseri, karena hasil jerih payahnya menyisihkan uang jajan selama 3 minggu telah terbayar. Ia telah mempunyai cukup uang untuk membeli Video game yang ia sangat inginkan. Pagi ini ia berangkat melewati jalur yang bukan biasa ia tempuh, yaitu melewati pinggiran sungai ciliwung yang akan membawanya menuju plaza jambu dua dan barulah ia menaiki angkutan umum bernomor trayek 07 menuju sekolahnya. Tetapi, tak disangka-sangka, saat ia melewati gang sempit yang terletak di perbatasan antara pinggiran sungai ciliwung dan jambu dua, ia didorong secara brutal oleh sesosok pria bertubuh tambun. Ia tidak bisa melihat mukanya karena pria itu menggunakan masker. Pria tambun itu mengancamnya dengan menggunakan pisau sehingga mau tidak mau ia terpaksa harus menyerahkan uang jerih payahnya selama ini.
                Tanpa dirasa, air mata mengalir turun dari matanya. Bibirnya bergetar, dan ia menangis terisak-isak.
                “penjahat sialan” Serunya dengan rahang yang dikatupkan. Tangannya menggenggam di samping kiri dan kanan pinggulnya. Air matanya terus mengalir tanpa ia bisa hentikan.
                DUAAARRR!!!
                Tiba-tiba ia mendengar suara dentuman yang sangat dahsyat. Suara itu seperti sebuah meteor yang jatuh ke permukaan bumi. ia melihat sesuatu jatuh kedalam aliran air sungai ciliwung bersamaan dengan suara dentuman besar itu sehingga menimbulkan muncratan air yang sangat dahsyat. Dengan kaki gemetar ia dekati sumber suara itu, dan aneh. Sungai masih normal seperti biasa. Gemericik airnya mengalir dengan tenang dari hulu ke hilir. Ikan, katak, kumbang, dan binatang-binatang lainnya masih melakukan aktivitas mereka seolah tidak ada yang terjadi.
                “Mungkin perasaanku aja kali ya.” Ia lalu membalikkan badannya dan ia coba untuk lupakan apa yang baru saja terjadi. Tetapi, pada saat ia hendak melangkahkan kakinya, ia mendengar suara desiran air yang bertambah keras dan keras. Ia membalikkan badannya, lalu ia melihat ada semacam pola lingkaran di atas permukaan air sungai. Pola itu bertambah jelas dan pusatnya semakin menjorok kea rah dasar sungai. Pola lingkaran itu kini membentuk pusaran air yang lebarnya kira-kira 5 meter atau selebar sungai ciliwung itu. Pusaran air itu pula menyedot udara disekelilingnya sehingga banyak tumbuhan dan hewan hewan kecil yang tersedot. Lelaki kurus itu berpegangan erat kepada salah satu pohon besar di pinggiran sungai ciliwung. Tetapi, hisapan pusaran air semakin kuat sehingga satu persatu jarinya mulai melepaskan cengkramannya pada pohon itu dan ia pun terhisap kedalam pusat pusaran air yang dingin.
               "Toloong toloong!" teriak lelaki itu. tetapi tak ada satupun yang mendengarnya,tubuhnya terbawa oleh arus berliku-liku berbentuk lingkaran dan akhirnya ia sirna saat mencapai pusat dari pusaran air misterius itu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar