“Kasih
duit lu sekarang juga!” seru seorang yang berbadan tambun besar sambil
menggenggam kerah lelaki bertubuh kurus didepannya.
“Du..duit
saya bu..buat ongkos kesekolah bang” Jawab lelaki bertubuh kurus itu dengan
terbata-bata. Tubuhnya gemetar dan bulir airmata mulai bermunculan dari pinggir
matanya. Sesekali ia membenarkan letak kacamata yang merosot dari hidungnya.
“Terus
gua peduli!? Jalan aja lu sono ke sekolah lu, Susah amat!” Ancam pria bertubuh tambun itu. Ujung
pisaunya ia dekatkan ke tubuh lelaki kurus malang itu.
“Se..sekolah
saya jauh bang.”
“Banyak
bacot! Sini gua ambil sendiri!” Seru pria bertubuh tambun itu. Ia lalu
melepaskan genggaman tangannya pada kerah lelaki kurus lalu ia mulai
menggeledah isi kantong lelaki kurus itu dengan tangan kanannya. Sedangkan
tangan kirinya masih memegang pisau tajam yang diarahkan ke tubuh lelaki kurus
itu.
“Ja..jangan
bang.” Tolak lelaki kurus itu. Tetapi ia tidak memberontak. Ia hanya diam
dan rela tubuhnya digerayangi sebuah tangan yang haus akan uang. Keringat
dingin jatuh menuruni jidatnya. Nafasnya tak tentu dan tubuhnya gemetar. Lelaki
itu takut bukan main.
Setelah
beberapa menit, lelaki bertubuh tambun
itupun segera menarik dompet yang ada di kantung belakang sang lelaki kurus.
Tanpa melihat isinya, ia lari secepat cepatnya dan hilang begitu saja. Sang
lelaki kurus itu lalu duduk tersungkur di tanah. Badannya lemas karena apa yang
baru saja terjadi. Juga karena satu-satunya uang yang ia miliki saat ini telah
berada di tangan perampok biadab itu.
“Dek,
ari maneh kunaon?” Tiba-tiba seorang bapak-bapak kisaran umur limapululuh
tahunan berdiri di ujung gang sempit itu. Ia tidak memakai baju, hanya celana
dan topi saja yang menempel pada badannya. Sandal ataupun sepatu pun tak ia
pakai. Pundaknya meminggul sebatang kayu yang terdapat ember pada ujungnya.
Ember itu berisi pasir sungai.
“Ng…Gapapa
kok pak” Lelaki bertubuh kurus itu berdiri dengan semua tenaga yang ia punya.
Kakinya gemetar ketakutan gara-gara apa yang baru saja terjadi.
“Waduh,
kamu kaya abis ngeliat setan. Emang tadi ada setan?” Tanya bapak kuli pasir itu
sambil menghampiri lelaki bertubuh kurus.
“Bapak
bisa aja, saya gapapa kok pak beneran deh. Permisi dulu ya pak saya harus pergi
ke sekolah.” Seru lelaki itu dengan tersenyum getir. Ia lalu meninggalkan bapak
kuli pasir itu lalu mulai melangkahkan kakinya tak tentu kemana. Sebenarnya ia harus pergi ke sekolah, tetapi sekolahnya terletak di kawasan Merdeka, Kecamatan Bogor
utara. Sedangkan ia kini berada di Kawasan warung jambu, Kecamatan Tanah
Sareal. Jarak dari tempat ia berada sekarang ke sekolahnya kira-kira 2
kilometer sedangkan 30 menit lagi pelajaran dimulai.
“Harus
kemana lagi sekarang? Pagi-pagi udah apes.” Seru lelaki itu sambil menendang
nendang batu kerikil yang ada di jalannya. Pagi ini ia berangkat dengan wajah
berseri, karena hasil jerih payahnya menyisihkan uang jajan selama 3 minggu
telah terbayar. Ia telah mempunyai cukup uang untuk membeli Video game yang ia
sangat inginkan. Pagi ini ia berangkat melewati jalur yang bukan biasa ia
tempuh, yaitu melewati pinggiran sungai ciliwung yang akan membawanya menuju
plaza jambu dua dan barulah ia menaiki angkutan umum bernomor trayek 07 menuju
sekolahnya. Tetapi, tak disangka-sangka, saat ia melewati gang sempit yang
terletak di perbatasan antara pinggiran sungai ciliwung dan jambu dua, ia
didorong secara brutal oleh sesosok pria bertubuh tambun. Ia tidak bisa melihat
mukanya karena pria itu menggunakan masker. Pria tambun itu mengancamnya dengan
menggunakan pisau sehingga mau tidak mau ia terpaksa harus menyerahkan uang
jerih payahnya selama ini.
Tanpa
dirasa, air mata mengalir turun dari matanya. Bibirnya bergetar, dan ia
menangis terisak-isak.
“penjahat
sialan” Serunya dengan rahang yang dikatupkan. Tangannya menggenggam di samping
kiri dan kanan pinggulnya. Air matanya terus mengalir tanpa ia bisa hentikan.
DUAAARRR!!!
Tiba-tiba
ia mendengar suara dentuman yang sangat dahsyat. Suara itu seperti sebuah
meteor yang jatuh ke permukaan bumi. ia melihat sesuatu jatuh kedalam aliran
air sungai ciliwung bersamaan dengan suara dentuman besar itu sehingga
menimbulkan muncratan air yang sangat dahsyat. Dengan kaki gemetar ia dekati
sumber suara itu, dan aneh. Sungai masih normal seperti biasa. Gemericik airnya
mengalir dengan tenang dari hulu ke hilir. Ikan, katak, kumbang, dan
binatang-binatang lainnya masih melakukan aktivitas mereka seolah tidak ada
yang terjadi.
“Mungkin
perasaanku aja kali ya.” Ia lalu membalikkan badannya dan ia coba untuk lupakan
apa yang baru saja terjadi. Tetapi, pada saat ia hendak melangkahkan kakinya,
ia mendengar suara desiran air yang bertambah keras dan keras. Ia membalikkan
badannya, lalu ia melihat ada semacam pola lingkaran di atas permukaan air
sungai. Pola itu bertambah jelas dan pusatnya semakin menjorok kea rah dasar
sungai. Pola lingkaran itu kini membentuk pusaran air yang lebarnya kira-kira 5
meter atau selebar sungai ciliwung itu. Pusaran air itu pula menyedot udara
disekelilingnya sehingga banyak tumbuhan dan hewan hewan kecil yang tersedot. Lelaki kurus
itu berpegangan erat kepada salah satu pohon besar di pinggiran sungai ciliwung.
Tetapi, hisapan pusaran air semakin kuat sehingga satu persatu jarinya mulai
melepaskan cengkramannya pada pohon itu dan ia pun terhisap kedalam pusat pusaran
air yang dingin.
"Toloong toloong!" teriak lelaki itu. tetapi tak ada satupun yang mendengarnya,tubuhnya terbawa oleh arus berliku-liku berbentuk lingkaran dan akhirnya ia sirna saat mencapai pusat dari pusaran air misterius itu.
"Toloong toloong!" teriak lelaki itu. tetapi tak ada satupun yang mendengarnya,tubuhnya terbawa oleh arus berliku-liku berbentuk lingkaran dan akhirnya ia sirna saat mencapai pusat dari pusaran air misterius itu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar