Rabu, 13 Februari 2013

Brightest sun


                Kawan, tahukah engkau akan frase “Elephant Doesn’t Forget” atau Gajah tidak pernah lupa? Frase ini ada benarnya. Gajah atau dalam nama latinnya bernama Elephantidae memiliki pengetahuan yang amat kuat, seekor gajah dapat mengingat suatu peristiwa yang terjadi beberapa tahun yang lalu dan mengingat raut wajah orang-orang pada peristiwa itu. Hal ini disebabkan oleh otaknya yang padat dan berlipat-lipat sehingga ia memiliki ingatan yang amat kuat. Layaknya gajah, akupun memiliki tempat khusus di dalam otakku untuk ingatan yang satu ini.  Peristiwa dimana hatiku tergetar hanya dengan melihat senyum getirnya yang melengkuk bagaikan perahu terindah, matanya yang redup damai bagaikan hamparan luas lavender, gerak-geriknya yang tentram sehingga dapat menenangkan auman singa terganas sekalipun.
                Sosok gadis ini sangat loveable, gampang untuk dicintai. Seragam putih-biru khas SMP yang dikenakannya terlalu longgar untuk disangkutkan di balik tubuhnya yang mungil. Sepatu hitam converse berukuran mungil yang dikenakan diatas selapis kaus kaki yang hampir menyentuh lutut sangat indah untuk diperhatikan. Sungguh mungil kaki itu, menambah daya tarik gadis ini. Senyum yang tak pernah luntur dari wajahnya sangat menentramkan hati setiap orang yang melihatnya. Dua buah gigi gingsul yang timbul malu-malu di setiap ujung senyumannya lagi-lagi menambah ketertarikanku terhadapnya. Sungguh, gadis ini manis bukan buatan.
                Untuk sejenak, aku berharap tuhan melanggar hakikatnya untuk merenggut waktu dari dunia ini. Semua benda diam. Angin tak dapat berhembus, air pun tak dapat mengalir, Burung-burung pipit yang sedang mandi diatas genagan air berhenti sesaat, Bumi berhenti mengitari matahari. Begitu pula sosok yang sejak tadi kuperhatikan. Sosok perempuan mungil berseragam kelonggaran dengan gigi yang mencuat-cuat ini. Siapakah malaikat ini? Bulan manakah yang terbelah menjadi berkeping-keping sehingga telah menjatuhkan salah satu bidadari terindahnya ke lapangan sekolahku yang panas dan berbau pasir ini?. Tiba-tiba waktu mengambil alih. Angin kembali berhembus, air kembali kembali mengalir, burung pipit kembali melanjutkan mandinya, dan bumi kembali berputar megikuti porosnya. Begitu pula gadis mungil ini, sosoknya tiba-tiba hilang dari pandanganku, tertutup oleh orang yang lalu-lalang melintas di depanku. Aku kehilangan bidadari yang turun dari bulan itu. Hatiku resah, dadaku sesak.
                Sudah 34 Jam 12 Menit dan 12 Detik peristiwa itu berlalu. Dan setiap detik yang pergi melewatiku, aku merindukannya.
                Peristiwa itu terjadi hanya beberapa detik, beberapa detik yang amat indah, beberapa detik yang merubah haluan hidupku, sekaligus detik pertama aku jatuh dalam sebuah jurang yang sangat dalam nan licin tetapi, indah. Sangat indah. Jurang itu bernama, cinta.
                Senin, hari dimana kebanyakan umat manusia terikat tak berdaya diatas tempat tidur, dilapisi selimut yang terasa seakan beban 1000 Ton sehingga setiap sendi tubuh tak dapat bergerak. Senin ini, amat berbeda bagiku. Kuputuskan tali yang mengikatku dengan tempat tidur dan kuangkat kuat-kuat beban selimut 1000 Ton itu. Pertama kali, pertama kalinya aku seperti ini pada hari minggu. Ada kekuatan yang mengalir deras dalam pembuluh nadiku, berdetak kencang dalam jantungku, memenuhi badanku dengan hormone adrenalin yang membuatku menjadi manusia super untuk mengangkat beban 1000 Ton itu.
                Pagi itu aku telah bangun mendahului ayam berkokok, hal ini sangat melanggar tabiatku sehari-hari yang biasanya bangun ketika anak-anak SD telah berbaris rapi untuk pemeriksaan kuku harian. Maka pada pukul 06:00 pun semua telah siap. Seragam putih dengan lambang osis kuning dengan mantap membalut tubuhku yang ukurannya berada di daerah abu-abu, antara gendut dan biasa saja. Maka bisa kubilang berisi. di seragam bagian dada kanan terpampang tulisan namaku yang dulu berwarna hitam, sekarang sudah luntur karena terlalu sering dicuci. WILDAN FAUZAN, tertera disitu. Dibawah ujung seragam putih berlambang osis ini adalah celana biru ku. Celana yang melambangkan status ku sebagai pelajar SMP. Tetapi telah ku langgar nilai estetikanya yang seharusnya ujung celana itu tergurai-gurai ketika aku melangkah dan lebar melingkari mata kaki, menjadi ketat mengikuti lekuk kaki ku dan sangat sempit di ujungnya sehingga memerlukan waktu yang lumayan lama untuk dapat mengenakannya. Belum lagi daerah di daerah dengkul celanaku robek karena menghasilkan celah kecil yang mempertontonkan dengkulku dipadu dengan seragam putih yang beberapa hilang kancingnya tetapi kubiarkan saja. Lengkaplah penampilanku ini, sangat melenceng dan melanggar aturan yang diterapkan disekolah sehingga jauh dari kesan terpelajar. Citra tentang anak bandel pun melekat padaku. Aku tak peduli.
                waktu berlalu layaknya wanita tua renta serta tambun sedang berjalan. Amat sangat lambat. Teori pria berkumis dan rambut eksentrik bernama Einstein yang mengatakan bahwa waktu itu relative ternyata benar. Setiap detik terasa seperti satu menit dan satu menit terasa seperti satu jam. Tak henti-hentinya ku tolehkan kepalaku kearah jam dinding yang berdetak jauh lebih lama dari biasanya. Jam dinding ini telah mengejekku, setiap kali kutorehkan kepalaku, hanya bertambah 30 detik dari terakhir kali aku melihatnya.
 “Tik….Tok….Tik…Tok…” ejek sang jam dinding sialan itu.
                 Masih jam 06:12, terlalu pagi untuk pergi ke sekolah. Jarak rumahku dengan sekolah lumayan dekat, masih bisa dibilang walking distance, kira-kira hanya 300 meter. Ditambah lagi, aku menggunakan motor. Hanya butuh waktu kurang lebih 5 menit untuk sampai ke sekolahku dan jika aku berangkat sekarang, aku yakin pak waslam, penjaga sekolah sekolahku,pun, belum membukakan gerbang. Akupun masih menunggu, jam dinding tertawa terbahak-bahak melihatku resah sekaligus marah. “Tik…Tok….Tik…Tok…”

                Pukul 06:45 pagi, ku injakkan kaki memasukki pagar sekolah. Walaupun -15 menit sebelum bel masuk, sekolah masih sarat akan murid. Mungkin inilah tabiat generasi muda jaman sekarang, sering terlambat. Walaupun salah satunya, aku. Tapi tidak hari ini, pagi ini, pagi cerah yang dihiasi oleh nyanyian burung pipit yang dengan eloknya keluar dari sarangnya, bersiap untuk mengumpulkan makanan sambil bersiul-siul memasuki setiap sudut celah kota Bogor. Para ayam mengepakkan sayapnya, berharap bisa terbang layaknya sang pipit sambil berkokok-kokok untuk melepaskan amarahnya, memarahi tuhan karena tidak dianugerahkan keahlian untuk terbang menyongsong angin, menembus awan, dan menukik tajam dari ketinggian 100 kaki. Matahari pagi begitu hangatnya menyinari bumi pertiwi ini,menciumi segala sesuatu yang berada dalam jangkauan sinarnya dengan kehangatan yang menggembirakan, seakan mengucapkan good luck for today kepada setiap mahluk yang berada dalam naungan sinarnya, mendobrak kekuatan-kekuatan manusia untuk melakukan sesuatu yang produktif di pagi yang yang dianugrahi ini.
                Hasrun, tukang bubur ayam langgananku, kaget melihatku berada di kursi panjang tempat para pelanggan bubur ayam nya menyanatap makanan. Tidak biasanya aku berada di tempat itu pada pagi hari kecuali ada sesuatu yang sangat penting seperti saat aku kabur dari tukang parkir yang mengejarku karena merobohkan deretan motor, saat aku melarikan diri dari razia mendadak, atau saat aku sedang malas mengikuti upacara. Melihatku telah berada di sekolah pagi-pagi begini saja, ia sudah takjub.
                Kuambil posisi mengamati dari tempat duduk dagangan bubur ayam ini karena tempat ini sangat strategis. Dengan hanya menengok 90® kearah kanan saja, terhamparlah lapangan beton yang memanjang berbentuk persegi panjang yang diujungnya terletak sebuah gerbang hitam sepanjang 2 meter yang menjadi pintu masuk bagi murid-murid SMPN 12 Bogor. Dan pintu gerbang itulah mark spotku, daerah pengawasanku.
                20 menit telah berlalu. Mataku tak henti-hentinya memandangi gerbang hitam sepanjang 2 meter itu. Hasrun sampai bingung melihatku yang sudah seperti orang sinting. diajak ngomong, aku diam. Ditanya sedang apa, aku tak menanggapinya. Di teriaki orang gila, kupingku tertutup rapat. Ditawari bubur gratis, aku mau. Sayangnya ia tidak melakukan itu.
                Einstein dengan teori relativitas sialannya lagi-lagi menjadikan aku sebagai kelinci percobaan. Dan lagi-lagi itu terbukti benar. Waktu relative berjalan sangat lambat karena yang kulakukan hanya memandangi orang-orang yang keluar dari gerbang hitam setinggi 2 meter itu. Kadang-kadang yang keluar dari gerbang itu berjalan berdua, berjalan sendiri, berjalan berkelompok, berhenti di daun gerbang untuk menunggu temannya yang memanggil. Laki-laki, perempuan, tua, muda, guru, murid, penjaga sekolah, pak najib sang satpam, kepala sekolah, penjual makanan di kantin, seseorang yang tak jelas statusnya, sampai orang gila sekalipun. tapi tak sekalipun aku menemukan sosok itu, sosok yang membuat nafasku tercekat di tenggorokan. Sosok yang menciptakan perang dunia ketiga didalam setiap detak jantungku. Sosok yang memberatkan setiap hembusan nafasku karena kekagumanku atas parasnya. Sosok itu, sosok yang kutunggu-tunggu.
                Sudah 30 menit aku memandangi gerbang hitam setinggi 2 meter itu tetapi aku belum menemukan yang aku cari. Bel sudah berbunyi sejak 20 menit yang lalu tetapi tak kuhiraukan. Peraturan-peraturan yang melekat di sekolah ini dengan seenaknya aku larang sesuka hati. Mulai dari aturan standar rambut, aturan memakai seragam yang benar, aturan lingkar celana yang harus dapat melewati dengkul jika ditarik ke atas, aturan sepatu yang harus berwarna hitam, aturan kaus kaki yang seharusnya berwarna putih dan melewati mata kaki, semuanya aku larang. Dan inilah aku, laki-laki berkulit sawo matang dengan tinggi kurang lebih 169cm dengan baju lecek yang telah ditinggalkan dua butir kancing paling bawahnya, dengan celana yang ketat meliuk-liuk mengikuti lekuk kakiku, berkaus kaki hitam yang dipakai sengaja di bawah mata kaki walaupun sebenarnya kaus kaki itu masih mampu menutupi kaki ku sampai tulang kering, bersepatu abu-abu, rambut gondrong dengan poni yang menari-nari saat terhembus angin, dan juga kacamata yang dikaitkan diatas hidugku yang tak ada batangnya.
                Sekonyong-konyong, kurasakan semeliwir angin berhembus melewati leher bagian belakangku, membuat bulu kudukku meremang. Kuperhatikan kiri-kanan, tidak ada siapa-siapa kecuali anak angin yang sedang bermain-main mengusir debu. Lapangan sepi, tidak ada aktifitas-aktifitas outdoor sama sekali. Hanya murid-murid yang sedang bertaut dengan buku pelajaran mereka masing-masing, yang menghasilkan suara yang menyelinap keluar dari ruangan sehingga samar-samar terdengar olehku.
                Terpikirkan olehku untuk menoleh kebelakang. Tetapi ketika mataku baru menoleh 45® ke arah kiri, tiba-tiba bagian wajahku yang sebelah kiri juga merasakan ketegangan yang dirasakan bulu tengkukku. Dan ekor mataku menangkap sebuah sosok tinggi besar di belakangku, firasatku buruk pikirku. Kupejamkan mataku sambil berkomat-kamit di dalam hati, berharap yang belakangku itu bukan…
                “anak bandeel!”
                Pak Alex. Mati aku.
                “kamu ngapain disini hah? Telinga kamu emang udah tuli? Ga denger bunyi bel!?” teriak pa Alex sambil menjewer telinga sebelah kiriku. Aku terperanjat saat permukaan kulit-kulit kasar jari jempol dan telunjuk pak Alex mengapit daun telingaku dengan keras.
                “Aduh.. pak, maaf pak maaf” rintihku seraya pak Alex menguatkan jewerannya.
                Selanjutnya pak Alex menceramahiku di tempat tentang bagaimana harusnya aku menghargai jerih payah orang tua yang sudah susah-susah mencari uang buat sekolah, tentang pemuda zaman sekarang, tentang dirinya yang rajin ketika seumurku, semuanya ia lakukan sambil menjewer telingaku. Panas sekali rasanya.
                Kulirik Hasrun dengan tatapan -I thought were friend, kukira kita teman Hasrun!-. ia menunduk merasa bersalah karena tidak memberi tahuku pak Alex datang, tapi aku memakluminya karena siapapun yang sudah melihat sosok lelaki hitam, berbadan tinggi dan kekar dengan kumis yang tak karuan ini pastilah mati kutu. Lalu pak Alex menggiringku menuju meja piket. Jari telunjuk dan jempolnya masih betah bersemayam mengapit daun telinga kiriku sambil menariknya untuk menggiringku layaknya seorang peternak kambing menarik tali yang diikatkan di leher kambingnya. Samar-samar kulihat bibirnya tersenyum melihatku merintih-rintih. Sialan, tertawa diatas penderitaan orang lain. Pikirku.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar