Senin, 10 Desember 2012

Memberantas Kemacetan

                          Dari balik kaca mata seorang anak SMA...


                Kendaraan yang jumlahnya semakin hari semakin tumpah membanjiri jalan raya pastilah meresahkan berbagai kalangan masyarakat. Mulai dari pejabat, pemerintah, orangtua, remaja, dan pengguna jalan raya lainnya, termasuk saya. Tahun 2008, ketika saya masih duduk di kelas 1 SMP saya ingat sekali salah satu kegiatan yang hampir rutin bagi saya yaitu berpergian dengan motor bersama ayah setiap hari minggu. Saya dibonceng tentunya. Saya ingat sekali jalanan yang jarang sekali macet, walaupun ada beberapa titik yang terkenal kemacetannya, tapi titik-titik itu tidak sebanyak sekarang. Lagipula titik-titik kemacetan itu hanya terletak di tempat yang benar-benar sempit tetapi sangat banyak berbagai macam transportasi dan manusia yang melewati daerah itu setiap harinya, seperti pasar. Jalan raya lainnya relatif lancar bagi saya dan ayah saya lewati dengan motor mio hitam kami.
                Di tahun 2012 ini, kemacetan bukan hal yang baru lagi. warga kota saya, Bogor, kini sudah menganggap kemacetan sebagai makanan sehari-hari, layaknya nasi. Sebab kini mengantri menunggu kendaraan didepannya maju sudah menjadi semacam hal yang mereka tahu akan terjadi.
                Bogor adalah kota dengan jumlah angkot terbanyak di Indonesia. Berdasarkan data Organda 2012 terdapat sekitar 3.412 angkot yang beroprasi di kota Bogor. 3.412 buah angkot ini melayani 23 trayek. Selain menambah polusi, kendaraan umum ini juga sering menjadi penyebab kemacetan yang terjadi di kota Bogor. Karena, kendaraan ini terkenal dengan perilaku supirnya yang suka “ngetem” atau berhenti untuk mengangkut atau menurunkan penumpang  tetapi seenaknya. Tidak memperhatikan sikon jalan raya sama sekali, maupun ramai atau macet, mereka rela menghentikan kendaraannya dan setia menunggu penumpang yang datang menghampiri tanpa memperdulikan berapa banyaknya kendaraan yang juga terpaksa ikut berhenti dibelakangnya dan menyebabkan macet. Tetapi, selain itu, angkot yang berjumlah 3.412 ini juga berarti merupakan lapangan kerja bagi lebih dari 3.412 supir yang mengandalkan pekerjaan “narik angkot” sebagai mata pencaharian hidupnya.
                Penyebab kemacetan yang lain ialah banyaknya kendaraan pribadi yang sekarang merajalela di setiap sudut kota saya. Ketika saya masih duduk di bangku smp, jenis mobil avanza dan xenia dapat disebut sebagai mobil yang cukup mewah jika terlihat sedang melaju diatas jalanan Bogor yang becek. Tetapi, sekarang, mobil avanza dan xenia itu hanya 1 dari berates-ratus mobil pribadi lainnya yang ikut meramaikan jalan raya di kota Bogor. Mobil-mobil pribadi yang lux lainnya pun kini sangat sering dijumpai di berbagai sudut kota bogor seperti mobil bmw, Mercedes, bahkan ferarri. Padahal yang mengemudikan hanya satu orang. Ya, sepengamatan saya, hanya sedikit mobil pribadi yang kursinya terisi penuh. Kebanyakan saya lihat hanya berisi satu atau dua orang saja. Bukankah itu mempersempit space  gerak di jalan raya? Dan bukankah hal tersebut merupakan sikap yang boros?
                Maka dari itu, menurut saya adalah tugas setiap warga Negara ini untuk memikirkan  ide-ide baru dan dukungan untuk mengantisipasi hal ini. Karena saya menggolongkan diri saya sebagai salah satu warga Negara yang mencintai negaranya layaknya seseorang mencintai ibunya, saya pun akan berusaha menumpahkan ide-ide dan pemikiran saya untuk mengatasi hal ini. Inilah ide saya :
1.       Pemerintah harus membuat sistem transportasi kendaraan umum yang ekonomis, efisien, nyaman, dan aman yang diharapkan dapat merubah cara pandang masyarakat terhadap perilaku “menggunakan kendaraan umum” yang kini dianggap sebagai sesuatu yang ribet, tidak nyaman, apalagi aman. Kalau sudah begitu, selera dan budaya masyarakat akan pindah dengan sendirinya. Menggunakan transportasi umum mungkin saja dianggap hal yang keren suatu saat nanti. karena mereka akan merasa puas dan terlayani sehingga mereka pun lebih senang menggunakan transportasi umum dibandingkan kendaraan pribadi. Menurut saya, salah satu jenis kendaraan yang bisa berpotensi besar untuk mewujudkan mimpi ini ialah subway atau kereta bawah tanah. Kenapa? Pertama, kereta bawah tanah adalah transportasi umum yang sangat jarang dirasakan oleh kebanyakan warga Indonesia dari beragai lapisan. Maka mereka akan merasa tertarik menggunakannya. Dan dengan layanan yang bagus, merekapun akan menjadikan kereta bawah tanah sebagai transportasi umumnya sehari-hari dan meninggalkan mobil pribadinya di garasi rumah. Kedua, kereta bawah tanah tidak menyebabkan kemacetan sama sekali karena terletak dibawah tanah, sangat berbeda dengan kereta yang beroprasi di atas tanah, setiap kali kereta lewat, setiap kendaraan harus menghentikan lajunya untuk menunggu kereta lewat. Dan lagi-lagi, hal ini mengebabkan macet, hal yang sedang kita coba solusikan.
2.       Membatasi jumlah angkot yang berada di Bogor, dengan jumlah yang lebih ideal. Ideal disini maksudnya jumlah yang sesuai dengan banyaknya penumpang yang akan menggunakan angkot di setiap trayek. Saya sering melihat angkot 08A yang selalu penuh dengan penumpang sedangkan masih banyak penumpang yang ingin naik sedangkan angkot 07 berserakan dimana-mana dengan isi yang kosong tanpa penumpang. Selain itu, para pengemudi angkot juga perlu di beri pengarahan tentang cara menggunakan bahan bakar yang efisien, cara mengemudi yang baik dan benar, dan juga tempat-tempat yang dilarang untuk ngetem mendadak.
3.       Memaksimalkan kinerja dan perwujudan yang proporsional atas ide-ide diatas sehingga ide diatas berjalan dengan baik dan menjadi penghasilan ekstra bagi Negara. Menurut saya, salah satu “kegalauan” pemerintah tentang membatasi jumlah transportasi pribadi karena keberadaan mobil-mobil itu dinegara kita juga memberikan keuntungan bagi Negara. Karena, pajak yang harus dibayarkan per tahun dan pajak yang harus dibayar untuk dapat mengimpor mobil itu ke Indonesia pula salah satu pengisi penghasilan Negara. Karena itu, pengaplikasian dari ide-ide saya diatas harus dijalankan sepenuhnya untuk mencapai tujuannya yaitu sebagai solusi kemacetan dan juga sebagai penghasil penghasilan Negara. Jika misalnya, misalnya loh, jika misalnya ide-ide saya diatas berhasil, dan orang-orang pun lebih memilih menggunakan transportasi umum yang lebih digemari masyarakat, maka pendapatan Negara yang bersumber dari pajak mobil itupun akan berkurang atau mungkin tidak bertambah, tetapi tidak apa-apa, karena penghasilan yang didapat dari transportasi umum diharapkan dapat menutup kerugian itu. Selain itu juga, mengatasi masalah kemacetan.
4.       Pihak-pihak yang berikutserta dalam program diatas haruslah orang pilihan yang jujur, adil, dan terpercaya agar program diatas dapat terlaksana dengan baik dan diharapkan dapat membantu mewujudkan tujuan dari program itu yaitu mendatangkan dana bagi Negara dan juga mengatasi kemacetan.

Jadi…. Itulah ideku, ide seorang murid kelas 2 SMA di Daerah Bogor. Seorang murid yang mempunyai pandangannya sendiri akan cara untuk memperbaiki negri yang sangat ia cintai. Ini ideku, apa idemu?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar