Jumat, 07 Desember 2012

Surat Kecil Untuk Ibuku


             Kubuka mataku.

             Gelap.

           Jariku beku, bibirku kelu, jantungku berdetak sangat kencang. Aku panik. mataku menyusuri setiap sudut ruangan sempit nan gelap ini, berharap ada secercah cahaya yang menuntunku keluar dari ruangan menyeramkan ini. Tetapi sayangnya, kemanapun mataku menoleh yang terlihat hanyalah hitam pekat. Aku panik, aku takut.
            Dan cahaya itu datang disaat sisa-sisa keberanianku mulai menipis. Ingin rasanya aku berteriak tetapi bibirku tak dapat digerakkan. Ingin aku memukul habis-habisan ruangan sempit dan gelap ini, mencari jalan keluarku sendiri, tetapi seluruh ototku beku tak mau patuh perintah tuannya. Mataku berbinar-binar saat secercah cahaya itu membesar, membesar, dan terus membesar sehingga akhirnya seukuran dengan tubuh mungilku. Ingin aku segera melesat menuju cahaya itu dan keluar dari tempat ini. Tetapi aku tidak bisa, aku tak punya kekuatan apapun.
            Lalu sesuatu menarikku dengan halus, ditambah suatu dorongan yang kasat mata. Akhirnya keluarlah aku dari ruangan sempit dan gelap ini, tempat yang telah menjadi tempat bersemayamku selama 9 bulan. Akhirnya dapat kugerakkan setiap sendi dalam tubuhku, bibirku yang tadinya kelu kini meraung-raung mengeluarkan semua rasa yang tertahan selama 9 bulan dalam tempat yang sempit dan gelap itu, kucurahkan semua isi hatiku terhadap dunia agar mereka tahu apa rasanya jadi diriku.
Badanku ditimang-timang sejenak oleh wanita ini. Wanita yang melihatku dengan tatapan dingin dan datar. Mulutnya tertutup semacam kain putih dan rambutnya dibungkus semacam plastik hijau sehingga aku tidak dapat melihat wajahnya dengan jelas. Tangannya dibalut plastik berwarna putih. Terasa dingin sekali saat ia menggendongku, saat plastik itu menyentuh kulitku.
Sekilas, kulihat wanita yang terbaring lemas diatas tempat tidur. Tubuhnya kaku layaknya kayu jati. Tangannya mencengkram pinggiran kasur sekuat-kuatnya. Rambutnya acak-acakan layaknya singa. keringat bercucuran dari keningnya, turun melewati pipinya lalu jatuh bebas dari dagunya. Gerut-gerut di wajahnya masih terlihat jelas, aku tahu ia baru melakukan sesuatu yang sangat melelahkan, sesuatu yang menguras tenaganya.
Walaupun tampilannya acak-acakan layaknya seseorang yang telah melakukan lari keliling lapangan sebanyak 10 kali, tetapi raut muka wanita ini amat tentram. Sinar ketulusan terpancar dari matanya yang berbinar-binar. Senyum getirnya ia layangkan kearahku, akupun malu dan salah tingkah dibuatnya.
         Wanita ini sangat indah dan luarbiasa cantik. Beberapa detik setelah aku lahir ke dunia ini, aku telah dianugerahkan cinta oleh yang maha kuasa. Cinta pada pandangan pertama, cinta yang amat sangat besar sehingga sesak memenuhi dadaku. Cinta yang hanya kutujukan kepada wanita itu, ialah ibuku.
           Wanita berpenutup mulut dan rambut yang sejak tadi menggendongku membawaku mendekati wanita beraut wajah tentran setentram hamparan luas lavender di pagi hari itu.” Ah, ah, jangan, aku malu…” pikirku, ingin aku mengatakannya tetap aku tidak bisa, aku tidak tahu caranya.
          Wanita beraut wajah tentram itu mendekapku erat disisinya. Aku salting diperlakukan seperti ini oleh cinta pertamaku.
Saat itu, tatapan penuh ketulusannya menghisap jiwaku untuk memasuki dunianya. Aku dapat melihat apa yang ia lihat. Dapat merasakan apa yang ia rasakan. Beberapa detik yang lalu, kulihat tubuhnya menegang, tangannya mencengkram pinggiran tempat tidur sekencang-kencangnya. Teriakannya amat keras sehingga memecah keheninhgan. Kulihat wanita berpenutup mulut dan rambut itu itu berada di antara kedua kaki cinta pertamaku. Tangannya bersiap-siap seakan aka nada sesuatu yang terlempar dari sela-sela kaki cintaku.
“dorong…dorong…dorong..” kata-kata itu selalu terlontar dari mulut wanita berpenutup mulut dan rambut itu.
Hatiku tersayat-sayat melihat cinta pertamaku menderita. Seluruh tubuhku lemas. Pengorbanan cinta pertamaku sangat berat demi sesuatu yang ia berusaha untuk keluarkan. Hatiku terbakar, kemarahan menjalar dari setiap sel-sel tubuhku. Kemarahan yang kutuju pada sesuatu itu. Sesuatu yang berusaha dikeluarkan oleh cinta pertamaku. Mulai detik itu aku bersumpah aku tidak akan embiarkan apapun memudarkan senyum tulus cinta pertamaku. Tidak akan.
Setelah beberapa lama, sesuatu itupu keluar. Dan ternyata sesuatu yang menghabiskan tenaga, suara dan juga keringat cinta pertamaku ialah aku sendiri. Sesuatu yang berusaha dikeluarkan oleh cinta pertamaku adalah aku.
Aku merasa tak berguna telah menaruh cintaku di garis antara hidup dan mati. Aku merasa tak berguna telah menjadi alasan mengapa cintaku meronta-ronta. Aku merasa tak berguna telah melenyapkan senyum tulusnya. Aku tak berguna.
Tubuhku kembali tersedot ke dunia nyata. Keluar elalui tatapan tulus cintaku dan kini aku kembali di dekapannya. Aku memalingkan wajahku, aku tak sanggup melihatnya, aku malu. Tetapi dengan lembutnya ia menuntun wajahku agar tatapan mata kami saling bertemu. Oh tuhan, betapa tentramnya wajah wanita ini walaupun aku telah menyakitinya, telah menguras habis tenaganya, telah menjatuhkan bulir-bulir keringatnya yang berharga. Kini akupun yakin ia mencintaiku. Sangat mencintaiku. Tatapannya tak dapat berbohong. Tatapan tulus seorang yang seakan mengisyaratkan “aku tidak akan pernah meninggalkanmu apapun yang terjadi” dicampur tatapan “mari kita jelajahi dunia bersama, kau aman di dekapku”.
Lambat laun mataku mulai mengantuk karena kehangatan tangannya yang merambat ke seluruh tubuhku. Kenyamanan yang tak terdeskripsikan oleh kata-kata. Mataku mulai tertutup, mulai membawaku ke dalam dunia imajinasi yang indah. Walaupun wanita yang mendekapku ini telah membawakan semua keindahan mimpiku menjadi nyata, kenyamanan yang ia tawarkan saat mendekapku tetap memaksa mata ini untuk tertutup. Kupandang sejenak wajah wanita ini untuk yang terakhir kalinya sebelum aku tidur. Tuhan memang ajaib, ia telah memberikan aku hadiah paling besar kepadaku di hari pertama aku menginjak dunia ini, hadiah yang tak ternilai harganya walaupun ditukarkan dengan dunia berserta isinya. Hadiah yang paling indah dibandingkan semua mutiara di lautan dan lebih berharga dibandingkan semua permata. Ialah wanita ini, ibuku.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar