Kubuka
mataku.
Gelap.
Jariku beku, bibirku kelu, jantungku berdetak
sangat kencang. Aku panik. mataku menyusuri setiap sudut ruangan sempit nan gelap
ini, berharap ada secercah cahaya yang menuntunku keluar dari ruangan
menyeramkan ini. Tetapi sayangnya, kemanapun mataku menoleh yang terlihat
hanyalah hitam pekat. Aku panik, aku takut.
Dan
cahaya itu datang disaat sisa-sisa keberanianku mulai menipis. Ingin rasanya
aku berteriak tetapi bibirku tak dapat digerakkan. Ingin aku memukul
habis-habisan ruangan sempit dan gelap ini, mencari jalan keluarku sendiri,
tetapi seluruh ototku beku tak mau patuh perintah tuannya. Mataku
berbinar-binar saat secercah cahaya itu membesar, membesar, dan terus membesar
sehingga akhirnya seukuran dengan tubuh mungilku. Ingin aku segera melesat
menuju cahaya itu dan keluar dari tempat ini. Tetapi aku tidak bisa, aku tak
punya kekuatan apapun.
Lalu sesuatu
menarikku dengan halus, ditambah suatu dorongan yang kasat mata. Akhirnya keluarlah
aku dari ruangan sempit dan gelap ini, tempat yang telah menjadi tempat
bersemayamku selama 9 bulan. Akhirnya dapat kugerakkan setiap sendi dalam
tubuhku, bibirku yang tadinya kelu kini meraung-raung mengeluarkan semua rasa
yang tertahan selama 9 bulan dalam tempat yang sempit dan gelap itu, kucurahkan
semua isi hatiku terhadap dunia agar mereka tahu apa rasanya jadi diriku.
Badanku
ditimang-timang sejenak oleh wanita ini. Wanita yang melihatku dengan tatapan
dingin dan datar. Mulutnya tertutup semacam kain putih dan rambutnya dibungkus
semacam plastik hijau sehingga aku tidak dapat melihat wajahnya dengan jelas. Tangannya
dibalut plastik berwarna putih. Terasa dingin sekali saat ia menggendongku,
saat plastik itu menyentuh kulitku.
Sekilas, kulihat
wanita yang terbaring lemas diatas tempat tidur. Tubuhnya kaku layaknya kayu
jati. Tangannya mencengkram pinggiran kasur sekuat-kuatnya. Rambutnya
acak-acakan layaknya singa. keringat bercucuran dari keningnya, turun melewati
pipinya lalu jatuh bebas dari dagunya. Gerut-gerut di wajahnya masih terlihat
jelas, aku tahu ia baru melakukan sesuatu yang sangat melelahkan, sesuatu yang
menguras tenaganya.
Walaupun tampilannya acak-acakan layaknya seseorang yang telah melakukan lari keliling lapangan sebanyak 10 kali, tetapi raut muka wanita ini amat tentram. Sinar ketulusan terpancar dari matanya yang berbinar-binar. Senyum getirnya ia layangkan kearahku, akupun malu dan salah tingkah dibuatnya.
Walaupun tampilannya acak-acakan layaknya seseorang yang telah melakukan lari keliling lapangan sebanyak 10 kali, tetapi raut muka wanita ini amat tentram. Sinar ketulusan terpancar dari matanya yang berbinar-binar. Senyum getirnya ia layangkan kearahku, akupun malu dan salah tingkah dibuatnya.
Wanita ini
sangat indah dan luarbiasa cantik. Beberapa detik setelah aku lahir ke dunia
ini, aku telah dianugerahkan cinta oleh yang maha kuasa. Cinta pada pandangan pertama,
cinta yang amat sangat besar sehingga sesak memenuhi dadaku. Cinta yang hanya
kutujukan kepada wanita itu, ialah ibuku.
Wanita
berpenutup mulut dan rambut yang sejak tadi menggendongku membawaku mendekati
wanita beraut wajah tentran setentram hamparan luas lavender di pagi hari itu.”
Ah, ah, jangan, aku malu…” pikirku,
ingin aku mengatakannya tetap aku tidak bisa, aku tidak tahu caranya.
Wanita beraut wajah tentram itu mendekapku erat disisinya. Aku salting diperlakukan seperti ini oleh cinta pertamaku.
Wanita beraut wajah tentram itu mendekapku erat disisinya. Aku salting diperlakukan seperti ini oleh cinta pertamaku.
Saat itu,
tatapan penuh ketulusannya menghisap jiwaku untuk memasuki dunianya. Aku dapat
melihat apa yang ia lihat. Dapat merasakan apa yang ia rasakan. Beberapa detik
yang lalu, kulihat tubuhnya menegang, tangannya mencengkram pinggiran tempat
tidur sekencang-kencangnya. Teriakannya amat keras sehingga memecah
keheninhgan. Kulihat wanita berpenutup mulut dan rambut itu itu berada di
antara kedua kaki cinta pertamaku. Tangannya bersiap-siap seakan aka nada sesuatu
yang terlempar dari sela-sela kaki cintaku.
“dorong…dorong…dorong..”
kata-kata itu selalu terlontar dari mulut wanita berpenutup mulut dan rambut
itu.
Hatiku tersayat-sayat
melihat cinta pertamaku menderita. Seluruh tubuhku lemas. Pengorbanan cinta
pertamaku sangat berat demi sesuatu yang ia berusaha untuk keluarkan. Hatiku terbakar,
kemarahan menjalar dari setiap sel-sel tubuhku. Kemarahan yang kutuju pada
sesuatu itu. Sesuatu yang berusaha dikeluarkan oleh cinta pertamaku. Mulai detik
itu aku bersumpah aku tidak akan embiarkan apapun memudarkan senyum tulus cinta
pertamaku. Tidak akan.
Setelah beberapa
lama, sesuatu itupu keluar. Dan ternyata sesuatu yang menghabiskan tenaga,
suara dan juga keringat cinta pertamaku ialah aku sendiri. Sesuatu yang
berusaha dikeluarkan oleh cinta pertamaku adalah aku.
Aku merasa tak
berguna telah menaruh cintaku di garis antara hidup dan mati. Aku merasa tak
berguna telah menjadi alasan mengapa cintaku meronta-ronta. Aku merasa tak
berguna telah melenyapkan senyum tulusnya. Aku tak berguna.
Tubuhku kembali
tersedot ke dunia nyata. Keluar elalui tatapan tulus cintaku dan kini aku
kembali di dekapannya. Aku memalingkan wajahku, aku tak sanggup melihatnya, aku
malu. Tetapi dengan lembutnya ia menuntun wajahku agar tatapan mata kami saling
bertemu. Oh tuhan, betapa tentramnya wajah wanita ini walaupun aku telah
menyakitinya, telah menguras habis tenaganya, telah menjatuhkan bulir-bulir
keringatnya yang berharga. Kini akupun yakin ia mencintaiku. Sangat mencintaiku.
Tatapannya tak dapat berbohong. Tatapan tulus seorang yang seakan
mengisyaratkan “aku tidak akan pernah meninggalkanmu apapun yang terjadi”
dicampur tatapan “mari kita jelajahi dunia bersama, kau aman di dekapku”.
Lambat laun
mataku mulai mengantuk karena kehangatan tangannya yang merambat ke seluruh
tubuhku. Kenyamanan yang tak terdeskripsikan oleh kata-kata. Mataku mulai
tertutup, mulai membawaku ke dalam dunia imajinasi yang indah. Walaupun wanita
yang mendekapku ini telah membawakan semua keindahan mimpiku menjadi nyata,
kenyamanan yang ia tawarkan saat mendekapku tetap memaksa mata ini untuk
tertutup. Kupandang sejenak wajah wanita ini untuk yang terakhir kalinya
sebelum aku tidur. Tuhan memang ajaib, ia telah memberikan aku hadiah paling
besar kepadaku di hari pertama aku menginjak dunia ini, hadiah yang tak
ternilai harganya walaupun ditukarkan dengan dunia berserta isinya. Hadiah yang
paling indah dibandingkan semua mutiara di lautan dan lebih berharga
dibandingkan semua permata. Ialah wanita ini, ibuku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar